Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 29 Oktober 2009

Kafa’ah

 

walimah Islam sebagai  sebuah pedoman hidup mengajarkan kepada penganutnya untuk senantiasa berikhtiar   (berusaha) dalam rangka mencapai tujuan-tujuan ideal yang dikehendakinya. Tujuan yang dikehendaki itu boleh jadi sesuatu yang sangat indah, baik dan menyenangkan, atau karena itulah yang dikehendaki oleh Allah SWT. Demikian juga dengan keluarga sakinah. Secara manusiawi, ia merupakan suatu model atau performance keluarga yang dicita-citakan oleh setiap orang, baik yang telah melangsungkan pernikahan maupun yang belum. Keluarga sakinah merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri, baik yang baru maupun yang telah lama membangun rumah tangga. [1]

Dalam pandangan islam perkawinan itu bukanlah hanya urusan perdata semata, bukan pula sekedar urusan keluarga dan masalah budaya, tetapi masalah dan peristiwa agama, oleh karena perkawinan itu dilakukan untuk memenuhi sunnah Allah SWT dan petunjuk Nabi SAW. Disamping itu perkawinan juga bukan untuk mendapatkan ketenangan hidup sesaat, tetapi untuk selama hidup. Oleh karena itu, seseorang mesti menentukan pilihan pasangan hidupnya itu secara hati-hati dan dilihat dari berbagai segi.[2] Dalam perakteknya, seseoarng melaksanakan perkawinan disebabkan karena ketertarikannya pada calon pasangannya. Ketertarikan itu boleh jadi karena empat hal, yakni karena kecantikan, keturunan, harta, dan karena agamanya. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis Rasullah swa: [3]

“ Wanita dinikahi karena empat hal; yakni karena hartanya, keturunanya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah wanita yang beragama niscaya kamu beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan keberagamaan disini adalah komitmen agamanya atau kesungguhannya dalam menjalankan ajaran agamanya. Ini dijadikan pilihan utama karena itulah yang akan langgeng. Kekayaan suatu ketika akan lenyap dan kecantikan suatu saat dapat pudar demikian pula kedudukan, suatu ketika akan hilang.[4] Suatu hal yang harus kita perhatikan sedaca seksama adalah bahwa mustahil seseorang akan mendapatkan seorang suami atau istri yang sesuai dengan seleranya secara seratus persen. Denga begitu, kendati sosok calon pasangannya itu hanya memenuhi limapuluh persen saja dari persyaratan yang diiginkannya, maka itu sudah lebih dari mencukupi.[5] Namun yang tidak boleh kita sepelekan yaitu posisi yang seimbang (setara) antara pasangan suami istri akan dengan mudah menumbuhkan saling pengertian di antara mereka. Tidak ada lagi mereka untuk saling meremerkan atau merendahkan. Sehingga, mereka terhindar dari perselisihan-perselisihan yang dapat berakibat fatal bagi kelestarian rumah tangga mereka.[6] Artinya, jangan sampai ada jurang yang terlalu dalam antara suami istri pada level ilmiah, matrrial, dan mental. Tapi harus ada kesepadanan dalam pemikiran, pemahaman, selera, dan cita-cita.[7]

Idealnya sebuah kehidupan rumah tangga adalah untuk hidup rukun, bahagia dan tentram. Tetapi , sebuah perjalanan hidup tidak selamanya mulus sesuai yang diharapkan, kadang terdapat perbedaan pandangan dalam memahami kehidupan dan kececokan, pasangan suami istri merasa tidak nyaman dan tidak tentam lagi dengan perkawinan mereka. Karena pada kenyataannya membina hubungan keluarga tidak mudah bahkan sering kehidupan perkawinan kandas di tengah jalan.[8]

Fenomena cerai gugat merupakan fenomena yang banyak terjadi belakangan ini dari mulai artis hingga masyarakat umum. Kasus istri yang menggugat cerai suami bukanlah hal yang tabu lagi. Sebagia besar perceraian dominan oleh perempuan yang menuntut cerai penyebabnya sangat klise dari mulai faktor ekonomi, kurang tanggungjawab sang suami sampai masalah perselingkuhan. Selain itu istilah yang kerap melekat bagi seorang istri  bahwa ‘istri ikut suami’ sudah tidak zamannya. Dan istri akan menderita bila ditinggal suami sudah tidak usang buktinya kalau dulu kaum suamilah yang menceraikan istri tapi sekarang istrilah yang banyak menceraikan suami.[9]


[1] Adi Syamsu Alam, Usia Ideal untuk Menikah, ( Jakarta: PPHIM, 2006), Cet.II, h.IX

[2] Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta; Prenada  Media, 2006), Cet.I, h.48

[3] Adi Syamsu Alam, Usia Ideal untuk Menikah, h.7

[4] Amir Syarifuddin, hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h.49

[5] Ayyatullah Husai Mazhahiri, Membangun Syurga dalam Rumah Tangga. Penterjemah Abdullah Assegaf, (Bogor: Cahaya, 2004), Cet.2, h.

[6] Adi Syamsu Alam, Usia Ideal untuk Menikah, h.19

[7] Shahih Syaikh Fuad, Untukmu yang akan Menikah dan Telah Menika. Penerjemah Ahmad Fadil, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2006), Cet.III, h.45

[8] Chuzaemah T. Yanggo dan A. Hafiz anshary. A.Z, Problematika Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), Cet.III, h.73

[9] Majalah Bulanan BP4, Perkawinan dan Keluarga Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: BP4, 2006), ED No.405


Responses

  1. Idealnya,,,dikatakan sebagai sekafaah bagaimana ya??
    tq🙂

    • biasanya, bibit, bebet, bobot, dan agama: tapi 3 hal yang lebih dulu ini menurut saya lebih pada hal yang mengarah negatif…

      kafa’ah hanya masalah keahlian, bisa mengarah ke pendidikan,,,,jika fikrohnya sama tidak ada masalah….🙂

  2. ini perspektif mba aja kan…😉
    sepakat, tapi kan kita punya orangtua yang terkadang ga lepas dari bibit, bebet dan bobot kan ya…

  3. kafa’ah hal yang sangat penting, sebab kita hidup dan akan memimpin atau dipimpin oleh seseorang yang tentu saja harus punya apa-apa yang kita punya, bahkan sebagai orang yang akan memimpin harus punya sesuatu yang lebih,,,karena kita akan memipin bidadari, yang kelak tujuannya juga menjadi bidadari…😉


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: