Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 28 Desember 2009

CiNta di RuMah HasaN AL-BaNNa

Biasnaya Anggapan tentang pendidikan anak hanya tanggung jawab seorang ibu masih berkembang di masyarakat, memang tak ada yang menafikkan peran-peran besar yang ada di tangan seorang ibu bagi masa depan anak-anaknya. Bagaimanapun ibu mempunyai pengaruh pada perkembangan kepribadian anak, sehingga mereka bisa merasakan kenyamanan, keteduhan, dan kepercayaan diri yang kuat menjalani hidupnya, lalu bagaimanakah peran seorang ayah…???

Tulisan ini akan membuka sedikit demi sedikit lembar kehidupan seorang ayah dalam pembinaan keluarganya. sebuah kisah yang diambil dari sejumlah wawancara beberapa media terhadap anak-anaknya, yang mengurai pengalaman dan kenangan mereka saat ayah mereka hidup. yang sehari-ari begitu padat dengan aktifitas di luar rumah. dialah Imam Syahid Hasan Al-Banna, Semoga Allah SWT merahmatinya..

Mari Bertamu Kerumah Hasan Al-Banna…

Al-Banna rahimahullah dirumahnya adalah seorang ayah yg kebaikannya begitu mengesankan anggota keluarga, ia memberi contoh yang agung dalam penunaian misi seorang ayah yang berhasil..beliau dikarunia 6 orang anak (Wafa, Ahmad Saiful Islam, Dr.Tsana, Ir.Roja’, Dr.Halah, Dr.Istisyhad)

Praktek Tarbiyah Hasan Al-banna…

1. Makan Bersama yang menjadi prioritas..
Imam Hasan Albanna mempunyai catatan memukau dalam sejarah kehidupan dakwahnya,beliau telah berhasil membentuk sebuah gerakan dakwah “Ikhwanul Muslimin” hanya 6 Bulan,membentuk sayap Al ikhwan di 20 negara, dan membentuk 2 ribu cabang. Tapi ternyata beliau masih mampu menyempatkan waktu untuk makan bersama anak2nya di rumah, saat-saat ini merupakan waktu yang prioritas bagi beliau. Siapakah diantara para juru dakwah yang merasa tidak punya waktu lagi hanya sekedar makan bersama anak-anak di rumah??

2. Tak ada suara keras di Rumah kami..
Tsana Bercerita,”Kami tidak pernah merasakan adanya beban kegiatan yang dirasakan ayah selama di rumah. Misalnya saja kami tidak melihatnya seperti kebanyakan orang yang kerap berteriak atau bersuara keras di dalam rumah dan semacamnya sebagai akibat dari tekanan mental dan fisik setelah banyak beraktifitas di luar rumah. Jika anda baca bagaimana kehidupan ayah, engkau akan lihat bahwa semuanya berjalan sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.

3. Perhatian Hasan Al-banna…
Anak adalah investasi besar untuk dakwah dan tentu saja untuk kemanusiaan secara keseluruhan. karena itu beliau melakukan perencanaan yang baik untuk semua anak2nya.Beliau menyediakan catatan untuk masing2 anaknya didalam map yang berisikan detail sejarah dan tanggal kelahiran,nomor kelahiran, pola pengaturan makanan bagi si kecil, surat keterangan dokter atau resep dokter yg memeriksa anak2nya,rincian resep yg telah diberikan lengkap dg tanggal kelahirannya, ijazah dan raport anak2nya. sangat -sangat teratur sekali, hampir tak ada tumpang tindih dalam dokumennya.
beliau juga mempunyai kebiasaan yang mungkin jarang dilakukan oleh seorang ayah,beliau biasa membawakan makan pagi ke sekolah TK anak2nya, simak perkataan salah seorang anak beliau, Ir.Roja Hasan Albanna,”Aku ingat, ayah semoga Allah merahmatinya-biasa membawakan makan pagi ke sekolah ku ketika usiaku masih 5 tahun.itu karena perhatiannya begitu besar kepadaku agar aku bisa makan pagi. ketika itu aku memang sering lupa membawa roti untuk makan pagi kesekolah atau mungkin pula makananku diambil oleh teman2-teman di sekolahku. ayah sangat berusaha membawakan makan pagi itu setiap hari ke sekolah meskipun kesibukannya luar biasa. tapi beliau tetap tidak melupakan kami…
Beliau juga sangat perhatian terhadap urusan rumah. beliau menulis sendiri keperluan yang dibutuhkan keluarga setiap bulannya.Puteri Al Banna, Tsana mengatakan,”Ayah mempunyai catatan sendiri tentang kebutuhan bulanan rumah kami.sampai terkait sejumlah bahan makanan yang hanya ada sewaktu-waktu saja sesuai musimnya, semisal kacang, zaitun, nasi dan semacamnya. juga termasuk dalam catatan kebutuhan ayah. ayah memantau baik kapan musim2nya tiba dan membelinya untuk kami dirumah. itu karena ayah tahu, ibu sangat sibuk mengurus rumah.”

4. Menasehati tidak secara langsung
Orang tua memang tidak dianjurkan untuk tidak segera memberi pemecahan langsung terhadap persoalan yang dihadapi anak. itu menjadi salah satu pola pendidikan agar anak terlatih membuat keputusan sendiri, bukan karena suruhan atau tekanan dari pihak lain. Tsana mengisahkan,”ayah pernah memberi nasihat secara tidak langsung kepadaku. Aku ingat ketika saudaraku Saiful islam yang sangat suka membaca cerita komik.ketika itu ayah tidak mengatakan kepadanya, agar buku itu tidak dibaca. tapi ayah pergi dan memberinya kisah2 kemuliaan islam.sampai setelah beberapa waktu meninggalkan sendiri buku Arsin Lobin dan lenih banyak membaca buku dari Ayah. ayah suka mengarahkan kami dengan tidak secara langsung agar apa yang kami lakukan itu tumbuh dari diri kami sendiri, bukan dari perintah ataupun tekanan siapapun.

5. Menyemai Cinta Dengan Cara Langsung
Memberikan arahan, nasihat, memerintahkan, melarang tidak menjamin kesuksesan dalam mendidik anak kecil.Bahkan umumnya,langkah seperti itu saja justru mermancing mereka menolak dan jiwa mereka sempit untuk melakukan sesuatu yg diinginkan. Cara yg baik dan benar adalah dengan menanamkan nilai dalam jiwa melalui cara praktis, misalnya menuntun tangan sang anak untuk melakukan sesuatu sekaligus menjelaskan caranya dengan kecintaan dan kehati2an, serta latihan untuk menerapkannya.
Saiful Islam menceritakan,”Suatu ketika datang sekelompok Ikhwan untuk bertemu ayah.aku menerima mereka dipintu rumah dan segera bertanya,”Apakah kalian datang untuk berkunjung kepadaku atau untuk ayahku?. Lalu mereka menjawab kedatangan mereka untuk ayahku, Baik kalau begitu biarkanlah ayah saja yang membukakan pintu untuk kalian. Aku lalu menutup pintu dihadapan mereka dan meninggalkan mereka begitu saja. Setelah mereka menceritakan peristiwa itu kepada ayahku.ayah lalu datang kepadaku dan bertanya apa yang terjadi. Aku menceritakan kepada ayah,t api ayah tidak marah dan menghukumku. ayah justru menyodorkan kesepakatan yang mengejutkan. Katanya, “Saif, bagaimana bila ayah yg memuliakan tamumu? ayah yg menerima mereka,dan mempersilahkan mereka masuk kemudian memperlakukan mereka sebagaimana tamuku.lalu ketika ada tamu datang untuk berkunjung kepadaku, engkau memperlakukannya sebagaimana tamumu…”setelah itu, tercapailah kesepakatan antara kami untuk memperlakukan tamu dengan baik.dan kesepakatan itu benar-benar terlaksana dg komitmen diantara kami.”saat ditanya tentang usianya saat itu, saiful menjawab,”Ketika itu aku berusia 10 atau 11 tahun”.

6. Ayah dan ibu kami, pasangan romantis dan harmonis..
Hubungan yang harmonis dan baik antara ayah dan ibu, mempunyai pengaruh dahsyat dalam perilaku anak.ayah dan ibu adalah figur hidup dan pengalaman nyata bagi seorang anak, yang akan kuat tertanam dalam pikiran dan jiwanya.seorang anak akan membina nilai2 hubungan yang baik itu dan akan memberi manfaat besar kala ia dewasa dan menikah.
Tsana, puteri Hasan Al BAnna menceritakan,”Pernah suatu hari ayah pulang agak malam dan ibuku sedang tidur. Ketika itulah saya bisa melihat penerapan firman Allah SWT,”Dan (Dia) menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang”..Ketika itu ayah tidak membangunkan ibu sama sekali, sampai ayah menyiapkan sendiri makannannya dan seluruh keperluannya untuk menjamu makan malam untuk para Ikhwan yang datang.Ayah kulihat masuk ke dapur dan mempersiapkan makan malam sendiri. Ayah tahu letak semua bumbu dan perabotan di dapur lalu secara bertahap ayah menyiapkan makanan, kue dan minuman untuk para ikhwan. Ayah juga menyediakan roti dan menyusun meja makan sampai mereka bersantap malam bersama.
Saiful Islam menceritakan hal yang serupa.Katanya,”Jika pulang larut malam,ayah tidak pernah mengganggu seorangpun. Padahal kunci rumah kami cukup panjang sehingga jika dibuka apalagi dengan serampangan, pasti akan menimbulkan bunyi, suatu malam aku belajar hingga larut malam. Betapa terkejutnya aku ketika melihat ayah sudah berda di dalam rumah, padahal aku tidak pernah mendengar suara pintu terbuka. ternyata ayah membuka pintu dengan sangat hati2 dan sepelan mungkin.

7. Ayah Memberi kami hukuman
Tradisi lemah lembut dalam mengelola keluarga mempunyai bvanyak manfaat. lemah lembut akan menambah ikatan batin antara anggota keluarga dan memperkuat pertalian keluarga.
Saiful Islam menceritakan, Hukuman yang paling berat yang diberikan ayah kepada salah seorang diantara kami adalah jeweran di telinga, Suatu ketika, telingku dijewer dan ini merupakan hukuman yang paling berat yang aku rasakan. Masalahnya,suatu pagi ada kesalahan yang aku lakukan, tapi ketika siang harinya,sekitar jam 11 siang, ayah meneleponku untuk menenangkan aku dan memperbaiki hubungan kami. Peristiwa itu sangat berpengaruh pada jiwaku.
Tsana mengatakan,”jarang sekali ayah menghukum kami kecuali bila ada suatu yang memang dianggap kesalahan berat atau terkait dengan pelanggaran perintahnya yang sebelumnya sudah diingatkan kepada kami. Aku mendapat hukuman 2x dari ayah, kali pertama ketika aku keluar tanpa memaki sandal dan kedua ketika aku memukul pembantu di rumah.Suatu ketika aku duduk diatas tangga dan melihat ayah datang dari kejauhan. Aku segera bangun dan menghampirinya tanpa menggunakan sandal. Padahal ayah sudah mempersiapkan sandal untuk bermain dan sepatu untuk kesekolah. Ketika itu ayah melihatku sebentar saja, hanya sepintas.dan saat itu pula aku sadar bahwa pasti aku akan mendapatkan hukuman, aku segera kembali ke rumah. Setelah para ikhwan pulang,ayah masuk keruang makan dan memanggilku.aku datang dengan langkah lambat karena takut.ayah berkata,: “Duduklah di atas kursi dan angkat kedua kakimu.”Ayah lalu memukulku dengan penggaris pendek.masing2 kaki dipukul 10x.tapi terus teang sebenarnya aku ingin tertawa,karena pukulannya pelan sekali sampai aku tidak merasakannya. Ayah hanya ingin membuatku mengerti bahwa aku telah melakukan kesalahan.”

8. Ayah Menemani Kami saat bermain
Permainan merupakan masalah penting dalam membangun karakter anak saat kecil.Dahulu Rasulullah SAW juga biasa bermain dan bercanda dengan anak2 kecil.disanalah Beliau memberikan rentang waktu untuk mengistirahatkan jiwa. anak yang dapat kesempatan bermain dan bercanda d4engan orang tuanya akan hidup dalam suasana yang menggembirakan. jauh dari sikap kasar dan bisa tumbuh besar dengan sikap yang baik.
Tsana menceritakan, “Ayah membawakan kami sandal untuk bermain dan sepatu untuk ke sekolah, saat liburan, Ayah selalu mengajak kami berjalan, jika ayah mengajak kami, kami tidak lepas dari pantauannya.Ayah juga mengajak kami ke rumah nenek dan paman, agar kami bisa melewati liburan di rumah mereka.kami menikmati kebun2 hijau dan taman2 yang indah. kami melewati hari yang sangat bahagia dalam masa kanak-kanak kami di tempat yang indah ini.

Referensi buku : “Cinta di Rumah Hasan Al – Banna”. oleh : Muhammad Lili Nur Aulia.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: