Taujih Tamu

MeniKaH daN  DaKwaH…

Semestinya pernikahan kita pahami melalui tiga pendekatan: pendekatan fitrah, fikih dan dakwah.

Pendekatan Fitrah

Pendekatan fitrah menegaskan kepada kita bahwa pernikahan adalah sebuah proses alami (sunatullah) atas segala makhluknya. Allah menciptakan makhluk-Nya dalam kondisi berpasangan.

Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sangat indah, dan untuk mereka Allah menciptakan pasangannya. Secara naluriah, manusia akan memiliki ketertarikan kepada lawan jenis. Ada sesuatu yang amat kuat menarik, sehingga laki-laki dengan dorongan naluriah dan fitrahnya mendekati perempuan. Sebaliknya, perempuan merasakan kesenangan tatkala didekati laki-laki.

Fitah ketertarikan terhadap lawan jenis ini tidak akan bisa dibunuh atau dimampatkan dengan cara apapun. Akan tetapi kebebasan penyaluran dan pengekspresiannya tanpa kendali juga menjerumuskan manusia kepada sifat kebinatangan bahkan kesetanan.

Maka pernikahanlah jalan tengah yang dihadirkan Islam sebagai solusi. Islam tidak mengakui prinsip hidup membujang (tabattul), bahkan walaupun untuk alasan menyucikan diri dan demi mendekatkan diri secara total hanya kepada Allah. Dan Rasulullah saw pun menegaskan bahwa nikah adalah bagian dari sunnah (ajaran) beliau.

Pendekatan Fikih

Islam adalah sistem (syari’at) sempurna yang mengatur segala urusan kehidupan manusia demi menghadirkan kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka. Islam membimbing manusia dalam segala aspek baik keberadaannya secara individu maupun sosial. Perbaikan individu, pembinaan keluarga, pengarahan komunitas masyarakat serta pengkondisian manasia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi konsen syari’at Islam.

Keluarga adalah basis kekuatan masyarakat. Baik buruknya sebuah masyarakat bermula dari baik-buruknya keluaraga-keluarga yang ada dalam masyarakat tersebut. Dalam konteks ini Islam memberikan aturan dan bimbingan bagi setiap muslim dalam membentuk keluarga. Islam menjelaskan dengan begitu detail dan rinci mulai dari bagaimana prosedur pernikahan, kriteria calon suami atau istri, akad dan pesta pernikahan, hak dan kewajiban suami istri, aturan dalam berpoligami, perceraian beserta syarat-syaratnya, hak-hak anak dalam keluarga, perasaan solidaritas sesama anggota keluaraga, dan sebagainya. Semua aturan tersebut menjadi acuan bagi setiap muslim dalam menajalani pernikahan dan pembinaan keluarga.

(Secara detail tentang aturan-aturan Islam terkait pernikahan dan kehidupan keluarga silahkan merujuk kepada buku-buku fikih yang ada)

Pendekatan Dakwah

Setiap muslim adalah dai. Kita dituntut merealisasikan dakwah dalam seluruh kehidupan kita. Setiap langkah kita sesunguhnya adalah dakwah kepada Allah, sebab dengan itulah Islam terkabarkan kepada umat manusia, serta dengan itulah rahmat Islam tersebar ke seluruh alam. Bukankah dakwah bermakna mengajak manusia merealisasikan ajaran-ajaran Allah dalam kehidupan keseharian? Sudah selayaknya kita sebagai pelaku yang menunaikan pertama kali dan memberi contoh kepada yang lain.

Pernikahan akan bernilai dakwah apabila dilaksanakan sesuai dengan tuntunan (fikih) Islam di satu sisi, dan menimbang bebagai kemashlahatan dakwah dalam setiap langkahnya, pada sisi yang lain. Dalam memilih jodoh, dipikirkan kriteria pasangan hidup yang bernilai optimal bagi dakwah. Dalam menentukan siapa calon jodoh tersebut, dipertimbangkan pula kemashlahatan secara lebih luas, tidak hanya kemashlahatan pribadi tetapi juga keluarga, masyarakat dan dakwah secara keseluruhan.

Logika Dakwah Jabir Dalam Menikah

Di antara sekian banyak wanita muslimah yang siap nikah, mereka berberda bilangan usia dan tingkat kemendesakannya. Ada yang berusia 20 – 25 tahun, 25 – 30, 31 – 35, 35 – 40 atau juga di atas 40 tahun. Mereka semua siap menikah, siap menjalankan fungsi dan peran sebagai istri dan ibu rumah tangga.

Seorang laki-laki muslim telah berniat menikah. Usia nya 25 tahun. Dia dihadapkan pada realitas bahwa wanita yang sesuai kriteria fikih Islam untuk dia nikahi ada sekian banyak. Maka siapa yang lebih dia pilih, dan atas pertimbangan apa dia memilihnya?

Ternyata dia memilih si “A”, karena memenuhi kriteria kebaikan agama, cantik, menarik, pandai dan usia masih muda, 20 tahun atau bahkan kurang. Salahkan pilihan dia? DEMI ALLAH pilihan dia tidak salah. Dia telah memilih berdasar kriteria kebaikan agama dan memenuhi sunah kenabian. Bukankah Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Jabir r.a.: “Mengapa engkau tidak (menikah) dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu? (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah jawaban dakwah Jabir, “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yangt berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. Janda (yang saya nikahi) ini saya harapkan mampu menyelesaikan persolan tersebut”. Maka kata Rasulullah, “Benar katamu”.

Jabir tidak hanya berpikir untuk kesenangan pribadi semata. Ia tidak memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. Kemashlahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir – untuk diri dan juga keluarganya – dibandingkan jika dia menikahi gadis perawan.

Apabila semua laki-laki muslim berpikiran menentukan calon istrinya harus memiliki kecantikan ideal, berkulit putih, usia 5 tahun lebih muda darinya, maka siapakah yang akan datang melamar para muslimah yang usianya di atas 30 tahun, 35, bahkan 40 tahun lebih? Siapakah yang akan datang melamar para muslimah yang dari segi fisik tidak cukup alasan untuk dikatakan sebagai cantik menurut ukuran umum? Mereka, wanita tadi, adalah para muslimah yang melaksanakan ketaatan, mereka adalah wanita shalihah, menjaga kehormatan diri, bahkan mereka terlibat aktif dalam berbagai kegiatan dakwah dan sosial. Siapakah yang harus menikahi mereka?

Ah, mengapa pertanyaannya “harus”? Dan mengapa pertanyaan ini dibebankan hanya kepada seseorang? Kita bisa saja mengabaikan dan melupakan realitas itu. Jodoh di tangan Allah, kita tidak memiliki hak menentukan segala sesuatu, biarlah Allah memberikan keputusan agung-Nya. Bukan! Bukan dalam konteks itu kita berbicara. Kita memang bisa melupakan mereka, dan tidak peduli dengan orang lain, tapi bukankah Islam tidak menghendaki kita bersikap demikian?

Kendati Nabi s.a.w. menganjurkan Jabir r.a. agar menikahi gadis, kita juga mengetahui hampir seluruh istri Rasulullah, s.a.w. adalah janda!

Sudikah kita menurunkan 20 atau 30 poin?

Kendatipun Rasulullah s.a.w. menganjurkan Jabir menikahi gadis, ternyata kita tahu hampir seluruh istri Rasulullah s.a.w. adalah janda.

Kendati Rasulullah menyarankan Jabir agar beristri gadis, pada kenyataannya Jabir telah menikahi janda.

Demikian pula permintaan mahar Ummu Sulaim terhadap lelaki yang datang melamarnya, Abu Thalhah. Asalkan Abu Thalhah masuk Islam dan beriman, hal itu cukup sebagai mahar. Ummu Sulaim tidak berpikir yang lain. Inilah pilihan dakwah. Inilah pernikahan barakah, membawa mashlahat bagi dakwah.

Lain lagi pikiran “aneh” seorang mukmin dari kaum anshor, Sa’ad bin Rabi’ Al Anshory. Dia tawarkan kepada saudaranya dari muhajirin, Abdurrahman bin ‘Auf, katanya, “Saya memiliki dua istri sedang engkau tidak memiliki istri. Pilihalah seorang di antara mereka yang engkau suka, sebutkan nama yang engkau pilih, akan saya ceraikan dia untuk engkau nikahi. Kalau iddahnya sudah selesai, maka nikahilah dia” (HR Bukhari).

Sa’ad tidak memiliki maksud apa-apa selain memikirkan kondisi saudaranya seiman yang belum memiliki istri. Keinginan berbuat baiknya itulah yang sampai memunculkan ide aneh tersebut. Sebagaimana kita pahami, Abdurrahman dan kaum muhajirin secara umum, mereka hijrah meninggalkan kampung halaman (Mekah), serta seluruh keluarga mereka yang masih kafir dan juga seluruh harta benda. Mereka datang di Madinah hanya dengan baju yang melekat di badan. Tidak ada sanak famili, tidak ada rumah dan harta. (Dengan perbandingan yang sedikit berbeda, bayangkan diri kita kehilangan seluruh anggota keluarga dan seluruh harta benda kemudian mengungsi di daerah yang jauh dan asing yang belum pernah kita datangi dan tidak ada sanak familipun).

Ini hanya beberapa contoh, bahwa dalam konteks pernikahan, alangkah baiknya jika dikaitkan dengan kehidupan berjamaah dan proyek besar dakwah Islam. Jika kecantikan gadis yang diharapkan bernilai 100 poin, tak bersediakah seseorang muslim menurunkan 20 atau 30 poin untuk bisa mendapatkan kebaikan dari segi yang lain? Ketika pilihan itu membawa mashlahat bagi diri, keluarga dan dakwah?

Jika gadis yang diharapkan berusia 20 tahun, tidakkah bisa sedikit toleransi dengan melihat kepada para muslimah yang lebih mendesak untuk segera menikah dikarenakan desakan usia?

Jika kita seorang wanita muda usia, dan ditanya – dalam konteks pernikahan – oleh seorang laki-laki yang sesuai kriteria harapan kita, mampukah kita mengatakan kepada pria tersebut (dengan logika dakwah), “Saya memang telah siap menikah, akan tetapi mbak ini, ukhti ini, sahabat saya, lebih mendesak untuk segera menikah”.

Atau kita telah bersepakat untuk tidak mau melihat realitas itu, karena bukan tanggung jawab kita? Ini urusan masing-masing. Keberuntungan dan ketidakberuntungan adalah soal takdir yang tidak berada di tangan kita. Masya Allah, seribu dalil bisa kita gunakan untuk membenarkan pikiran individualistik kita, akan tetapi hendaknya kita ingat pesan kenabian:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta, kasih sayang dan kelembutan hati mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh menderita sakit, terasakanlah sakit tersebut di seluruh tubuh, hingga tidak bisa tidur dan panas” (HR Bukhari – Muslim)

[Maraji’: Cahyadi Takariawan, “Di Jalan Dakwah Aku Menikah”]

oleh: Abu Rasyidah Judy Muhyiddin


MeNciNtai sEJaNtaN Ali…

Oleh: Salim .A Fillah (Jalan Cinta Para Pejuang)

Ada rahasia terdalam di hati ‘Ali yang tak dikisahkannya pada siapapun. Fathimah.
Karib kecilnya, puteri tersayang dari Sang Nabi yang adalah sepupunya itu, sungguh memesonanya.
Kesantunannya, ibadahnya, kecekatan kerjanya, parasnya.

Lihatlah gadis itu pada suatu hari ketika ayahnya pulang dengan luka memercik darah dan kepala yang dilumur isi perut unta.
Ia bersihkan hati-hati, ia seka dengan penuh cinta.
Ia bakar perca, ia tempelkan ke luka untuk menghentikan darah ayahnya.
Semuanya dilakukan dengan mata gerimis dan hati menangis. Muhammad ibn ’Abdullah Sang Tepercaya tak layak diperlakukan demikian oleh kaumnya!
Maka gadis cilik itu bangkit.
Gagah ia berjalan menuju Ka’bah.
Di sana, para pemuka Quraisy yang semula saling tertawa membanggakan tindakannya pada Sang Nabi tiba-tiba dicekam diam.
Fathimah menghardik mereka dan seolah waktu berhenti, tak memberi mulut-mulut jalang itu kesempatan untuk menimpali.
Mengagumkan!
‘Ali tak tahu apakah rasa itu bisa disebut cinta.

Tapi, ia memang tersentak ketika suatu hari mendengar kabar yang mengejutkan.
Fathimah dilamar seorang lelaki yang paling akrab dan paling dekat kedudukannya dengan Sang Nabi.
Lelaki yang membela Islam dengan harta dan jiwa sejak awal-awal risalah.
Lelaki yang iman dan akhlaqnya tak diragukan; Abu Bakr Ash Shiddiq, Radhiyallaahu ’Anhu.

”Allah mengujiku rupanya”, begitu batin ’Ali.
Ia merasa diuji karena merasa apalah ia dibanding Abu Bakr.
Kedudukan di sisi Nabi?
Abu Bakr lebih utama,
mungkin justru karena ia bukan kerabat dekat Nabi seperti ’Ali,
namun keimanan dan pembelaannya pada Allah dan RasulNya tak tertandingi.
Lihatlah bagaimana Abu Bakr menjadi kawan perjalanan Nabi dalam hijrah
sementara ’Ali bertugas menggantikan beliau untuk menanti maut di ranjangnya..
Lihatlah juga bagaimana Abu Bakr berda’wah.
Lihatlah berapa banyak tokoh bangsawan dan saudagar Makkah yang masuk Islam karena sentuhan Abu Bakr; ’Utsman, ’Abdurrahman ibn ’Auf, Thalhah, Zubair, Sa’d ibn Abi Waqqash, Mush’ab..
Ini yang tak mungkin dilakukan kanak-kanak kurang pergaulan seperti ’Ali.
Lihatlah berapa banyak budak muslim yang dibebaskan dan para faqir yang dibela Abu Bakr; Bilal, Khabbab, keluarga Yassir, ’Abdullah ibn Mas’ud..
Dan siapa budak yang dibebaskan ’Ali?
Dari sisi finansial, Abu Bakr sang saudagar, insyaallah lebih bisa membahagiakan Fathimah.
’Ali hanya pemuda miskin dari keluarga miskin.

”Inilah persaudaraan dan cinta”, gumam ’Ali.
”Aku mengutamakan Abu Bakr atas diriku, aku mengutamakan kebahagiaan Fathimah atas cintaku.”

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

Beberapa waktu berlalu, ternyata Allah menumbuhkan kembali tunas harap di hatinya yang sempat layu.
Lamaran Abu Bakr ditolak.
Dan ’Ali terus menjaga semangatnya untuk mempersiapkan diri.
Ah, ujian itu rupanya belum berakhir.
Setelah Abu Bakr mundur,
datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa,
seorang lelaki yang sejak masuk Islamnya membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka,
seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut.
’Umar ibn Al Khaththab.
Ya, Al Faruq,
sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah.
’Umar memang masuk Islam belakangan,
sekitar 3 tahun setelah ’Ali dan Abu Bakr.
Tapi siapa yang menyangsikan ketulusannya?
Siapa yang menyangsikan kecerdasannya untuk mengejar pemahaman?
Siapa yang menyangsikan semua pembelaan dahsyat yang hanya ’Umar dan Hamzah yang mampu memberikannya pada kaum muslimin?
Dan lebih dari itu,
’Ali mendengar sendiri betapa seringnya Nabi berkata,
”Aku datang bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku keluar bersama Abu Bakr dan ’Umar, aku masuk bersama Abu Bakr dan ’Umar..”
Betapa tinggi kedudukannya di sisi Rasul, di sisi ayah Fathimah.

Lalu coba bandingkan bagaimana dia berhijrah dan bagaimana ’Umar melakukannya.
’Ali menyusul sang Nabi dengan sembunyi-sembunyi, dalam kejaran musuh yang frustasi karena tak menemukan beliau Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.
Maka ia hanya berani berjalan di kelam malam.
Selebihnya, di siang hari dia mencari bayang-bayang gundukan bukit pasir.
Menanti dan bersembunyi.
’Umar telah berangkat sebelumnya.
Ia thawaf tujuh kali, lalu naik ke atas Ka’bah.
”Wahai Quraisy”, katanya.
”Hari ini putera Al Khaththab akan berhijrah.
Barangsiapa yang ingin isterinya menjanda, anaknya menjadi yatim, atau ibunya berkabung tanpa henti, silakan hadang ’Umar di balik bukit ini!”
’Umar adalah lelaki pemberani.
’Ali, sekali lagi sadar.
Dinilai dari semua segi dalam pandangan orang banyak, dia pemuda yang belum siap menikah.
Apalagi menikahi Fathimah binti Rasulillah! Tidak.
’Umar jauh lebih layak.
Dan ’Ali ridha.

Cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Ia mengambil kesempatan.
Itulah keberanian.
Atau mempersilakan.
Yang ini pengorbanan.

Maka ’Ali bingung ketika kabar itu meruyak.
Lamaran ’Umar juga ditolak.
Menantu macam apa kiranya yang dikehendaki Nabi?
Yang seperti ’Utsman sang miliarder kah yang telah menikahi Ruqayyah binti Rasulillah?
Yang seperti Abul ’Ash ibn Rabi’ kah, saudagar Quraisy itu, suami Zainab binti Rasulillah?
Ah, dua menantu Rasulullah itu sungguh membuatnya hilang kepercayaan diri.
Di antara Muhajirin hanya ’Abdurrahman ibn ’Auf yang setara dengan mereka.
Atau justru Nabi ingin mengambil menantu dari Anshar untuk mengeratkan kekerabatan dengan mereka?
Sa’d ibn Mu’adz kah, sang pemimpin Aus yang tampan dan elegan itu?
Atau Sa’d ibn ’Ubadah, pemimpin Khazraj yang lincah penuh semangat itu?

”Mengapa bukan engkau yang mencoba kawan?”, kalimat teman-teman Ansharnya itu membangunkan lamunan.
”Mengapa engkau tak mencoba melamar Fathimah? Aku punya firasat, engkaulah yang ditunggu-tunggu Baginda Nabi..”
”Aku?”, tanyanya tak yakin.
”Ya. Engkau wahai saudaraku!”
”Aku hanya pemuda miskin. Apa yang bisa kuandalkan?”
”Kami di belakangmu, kawan! Semoga Allah menolongmu!”

’Ali pun menghadap Sang Nabi.
Maka dengan memberanikan diri, disampaikannya keinginannya untuk menikahi Fathimah.
Ya, menikahi.
Ia tahu, secara ekonomi tak ada yang menjanjikan pada dirinya.
Hanya ada satu set baju besi di sana ditambah persediaan tepung kasar untuk makannya.
Tapi meminta waktu dua atau tiga tahun untuk bersiap-siap?
Itu memalukan! Meminta Fathimah menantikannya di batas waktu hingga ia siap?
Itu sangat kekanakan. Usianya telah berkepala dua sekarang.
”Engkau pemuda sejati wahai ’Ali!”, begitu nuraninya mengingatkan.
Pemuda yang siap bertanggungjawab atas rasa cintanya.
Pemuda yang siap memikul resiko atas pilihan-pilihannya.
Pemuda yang yakin bahwa Allah Maha Kaya.

Lamarannya berjawab, ”Ahlan wa sahlan!”
Kata itu meluncur tenang bersama senyum Sang Nabi.
Dan ia pun bingung.
Apa maksudnya?
Ucapan selamat datang itu sulit untuk bisa dikatakan sebagai isyarat penerimaan atau penolakan.
Ah, mungkin Nabi pun bingung untuk menjawab.
Mungkin tidak sekarang.
Tapi ia siap ditolak.
Itu resiko.
Dan kejelasan jauh lebih ringan daripada menanggung beban tanya yang tak kunjung berjawab.
Apalagi menyimpannya dalam hati sebagai bahtera tanpa pelabuhan.
Ah, itu menyakitkan.

”Bagaimana jawab Nabi kawan? Bagaimana lamaranmu?”
”Entahlah..”
”Apa maksudmu?”
”Menurut kalian apakah ’Ahlan wa Sahlan’ berarti sebuah jawaban!”
”Dasar tolol! Tolol!”, kata mereka,
”Eh, maaf kawan.. Maksud kami satu saja sudah cukup dan kau mendapatkan dua!
Ahlan saja sudah berarti ya. Sahlan juga. Dan kau mendapatkan Ahlan wa Sahlan kawan! Dua-duanya berarti ya!”

Dan ’Ali pun menikahi Fathimah.
Dengan menggadaikan baju besinya.
Dengan rumah yang semula ingin disumbangkan kawan-kawannya tapi Nabi berkeras agar ia membayar cicilannya.
Itu hutang.

Dengan keberanian untuk mengorbankan cintanya bagi Abu Bakr, ’Umar, dan Fathimah.
Dengan keberanian untuk menikah.
Sekarang.
Bukan janji-janji dan nanti-nanti.
’Ali adalah gentleman sejati.
Tidak heran kalau pemuda Arab memiliki yel,
“Laa fatan illa ‘Aliyyan! Tak ada pemuda kecuali Ali!”

Inilah jalan cinta para pejuang.
Jalan yang mempertemukan cinta dan semua perasaan dengan tanggungjawab.
Dan di sini, cinta tak pernah meminta untuk menanti.
Seperti ’Ali.
Ia mempersilakan.
Atau mengambil kesempatan.
Yang pertama adalah pengorbanan.
Yang kedua adalah keberanian.

Dan ternyata tak kurang juga yang dilakukan oleh Putri Sang Nabi,

dalam suatu riwayat dikisahkan

bahwa suatu hari (setelah mereka menikah)

Fathimah berkata kepada ‘Ali,

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda”

‘Ali terkejut dan berkata, “kalau begitu mengapa engkau mau manikah denganku? dan Siapakah pemuda itu”

Sambil tersenyum Fathimah berkata, “Ya, karena pemuda itu adalah Dirimu”

Kisah ini disampaikan disini,

bukan untuk membuat kita menjadi mendayu-dayu atau romantis-romantis-an

Kisah ini disampaikan

agar kita bisa belajar lebih jauh dari ‘Ali dan Fathimah

bahwa ternyata keduanya telah memiliki perasaan yang sama semenjak mereka belum menikah tetapi

dengan rapat keduanya menjaga perasaan itu

Perasaan yang insyaAllah akan indah ketika waktunya tiba..


Merasa Diawasi…

Sebuah kisah yang mungkin tidak terjadi, kecuali dizaman ketika orang-orang shalih mengisi kehidupan bermasyarakat. Ketika rasa diawasi Allah swt (muraqabatullah) ada dalam diri banyak orang dan terwujud nyata melalui sikap-sikap yang mengagumkan.

Saudaraku,

Meri dengarkan sejenak asaja, sepotong kisah kehidupan mereka yang merasa terawasi dan terpantau oleh Allah swt dalam setiap gerakan. Kisah ini diriwayatkan dalam sejumlah versi, salah satunya diurai dalam kitab Hiyatul Al Auliya, karya Abu Na’im Al Asfihani.

Saudaraku,

Dahulu, ada sorang kaya bernama Nuh Bin Maryam yang dihormati masyarakatnya, selain kaya ia juga dikenal sebagai orang yang berpegang teguh pada prinsip dan ajaran Islam dengan baik. Nuh bin Maryam dikaruniai seoranga anak perempuan yang cantik, dan juga baik akhlaknya. Ia mempunyai seorang pembantu, Mubarak namanya, seorang pembantu jelas bukan dari seorang yang berada, dan tak memiliki banyak harta. Kehidupan umumnya mereka bisa dibilang sangat sederhana, tapi kelebihannya sebagaimana tuannya, pembantu Nuh Bin Maryam itu juga seorang yang kuat berpegang pada nilai Islam dan memiliki prilaku akhlak yang terpuji. Suatu ketika Nuh Bin Maryam memerintahkan memerintahkannya untuk memelihara dan menjaga kebun angggur miliknya. “Mubarak pergilah ke kebun itu, dan jagalah buah-buahnya. Peliharalah buah-buah itu sampai aku nanti akan datang ke sana” ujur Nuh Bin Maryam.

Sampai beberpa bulan kemudian, saat musim panen menjelang, Nuh Bin Maryam datang ke kebunnya. Hari siang nan terik membuat Nuh ingin beristirahat dikebunnya, di bawah bayang-bayang daun dan pohon anggur miliknya. Ia duduk dibawah pohon sambil mengatakan “Mubarak, tolong bawakan setangkai anggur yang sudah masak dan manis” Mubarak lalu menghampirinya dengan membawa setangkai anggur. Setelah dicicipi, Nuh Bin Maryan terkejut dan mengatakan. “Mubarak, tolong bawakan saya yang lainnya, ini masih muda dan asam”, Mubarak lalu datang kembali dengan membawa anggur. Tapisetelah dirasakan anggur itu tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, yaitu masih terlalu muda dan asam. Beberapa kali Nuh Bin Maryam meminta hal yang sama tapi Mubarak kembali membawakan anggur tidak sesuai permintaannya.

Saudaraku,

Nuh Bin Maryam hampir marah. Ia merasa perintah-perintahnya tak dikerjakan sebagaimana mestinya, ia mengatakan “Mubarak, saya minta kepadamu untuk dibawakan setangkai anggur yang sudah matang dan manis, tetapi engkau datang membawa anggur yang masih muda dan rasanya asam. Apakah engkau tidak tahu mana anggur yang manis dan asam?”

Karena akhlaknya yang baik, Nuh Bin Maryam tetap memberi kesempatan untuk mendengarkan jawanban pembantunya yang kemudian membuatnya tercengang. “Pak dahulu anda tidak meminta saya untuk memakan buah-buah anggur ini, anda hanya meminta saya untuk menjaga dan memeliharanya. Demi zat yang tidak ada Tuhan selain Dia, saya tidak pernah mencicipi buah-buah itu sedikitpun…” inilah jawaban Mubarak. Ia belum selesai dan melanjutkan jawabannya, “Demi Allah, aku tidak merasa diawasi olehmu, dan tidak merasa diawasi oleh siapapun makhluk di bumi ini, tapi aku merasa diawasi oleh Allah yang tidak ada sesuatu yang rahasia bagi-Nya di langit dan di bumi”.

Saudaraku,

Nuh Bin Maryam benar-benar tekejut dengan jawaban itu, jawaban yang begitu memukau karena menyebutkan pembantunya dalah orang yang shalih dan berakhlak mulia. Ia mengatakan, ?

“Mulai sekarang saya akan berkonsultasi denganmu, dan orang yang saya ajak konsultasi haruslah orang yang terpercaya” tak lama kemudian ia mengucapkan sesuatu yang tak diduga oleh Mubarak. “Mubarak, ada orang yang memperistri putriku. Orang itu adalah orang yang berharta, berkedudukan dan memiliki jabatan, kepada siapa kira-kira aku menikahkan putriku?” tanya Nuh Bin Maryam.

Mubarak menjawab “Dahulu orang-orang jahiliyah menikahkan putri mereka karena pertimbangan kekayaan dan keturunan saja. Orang-orang Yahudi menikahkan putri-putri mereka berdasarkan pertimbangan harta. Orang nasrani menikahkan karena kecantikan. Dan di zaman Rasulullah saw, kaum muslimin menikahkan anak-anak mereka karena pertimbangan agama dan akhlak. Lalu di zaman kita sekarang, orang menikahkan anak perempuan karena harta dan kedudukan. Sesungguhnya seseorang itu dinilai dari orang yang ia cintai, barang siapa yang menyerupai suatu kaum, berarti mereka termasuk golongan itu.”

Nuh Bin Maryam tertegun denganjawaban itu, kemudian mengatakan “Lalu apa nasihat dan masukkanmu?” ia terus berfikir tentang kecerdasan, kesalihan, ketajaman pandangan, yang dimiliki Mubarak belum pernah ia temui dalam diri orang selainnya. Sebelum Mubarak menjawab Nuh Bin Maryam mengatakan, “Anda saya merdekakan karena Allah..” lalu ia menyambung lagi, “Saya telah pertimbangkan masak-masak, dan saya menilai andalah orang yang paling tepat untuk saya nikahkan dengan anak perempuan saya”.

Saudaraku,

Setibanya di rumah Nuh Bin Maryam pun bercerita kepada putrinya tentang peristiwa yang terjadi, “ Setelah ayah pertimbangkan secara mendalam, ayah memilih dia untuk menikahimu..” Putrinya mengatakan “Apakah ayah ridha aku menikah dengannya?” Nuh Bin Maryam mengatakan, “Ya” putrinya menjawab, “Kalau begitu, akupun ridha menerimanya sebagai suamiku, karena aku merasa diawasi oleh Allah Yang tak mungkin ada sesuatupun yang tersembunyi dari-Nya di langit dan di bumi”

Apa buah dari pernikahan kedua hamba Allah swt yang shalih dan shalihah ini? Ketika istri Mubarak hamil dan melahirkan anak laki-laki, mereka namakan anaknya Abdullah.

Saudaraku,

Kita pasti hahu siapa Abdullah?

Ya..Abdullah Bin Mubarak rahimatullah, seorang ulama, ahli hadits, zuhud, ahli ibadah yang namanya menghiasi sejarah Islam di zaman tabi’it tabi’in. itulah buah dari rasa diawasi oleh Allah swt dalam segala keadaan, rasa diawasi dan dipantau oleh Allah swt dalam segala keadaan, pasti memberi yang terbaik untuk hidup.

Oleh: M. Lili Nur Aulia (Tarbawi, edisi 216 Th.11, Dzulhijah 1430 , 3 Desember 2009 )

Responses

  1. Subhanallah…
    ketika cinta itu dapat dijaga dengan baik, maka keberkahan akan hadir dalam proses dan ketika telah menjadi halal, cerita ini memberikan kita pelajaran berharga untuk tetap, dan senantiasa dapat menjaga hati,,🙂

  2. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan.
    Ia adalah keberanian, atau pengorbanan.

  3. bisa ga ya, ana seperti sahabat nabi yang bernama ALI itu.wahahaha,imposible men.ho3

  4. wah…hebatnya………

  5. mantab2..lanjut gan🙂

  6. Subhanallah


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: