Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 17 Maret 2012

Suami Mencintai Istri

Suami kepada istri di awal pernikahan demikian mesra bergaul. Kata-katanya pun diatur sedemikian rupa agar tidak menyinggung perasaan sang primadona. Setiap benda atau simbol maknawi dikomunikasikan dengan BAHASA LUBUK HATI. Rasa kasih namanya.

Begitu pula sang istri menanggapi tutur dan sikap kasih suami dengan penuh sentimentil. Yang berbicara bukan lagi logika tapi LUBUK KALBU. Oh, betapa indahnya hidup ini.

Inilah gambaran hidup sang pengantin baru. Mungkinkah KASIH SAYANG TERTAMBAT ABADI DALAM LUBUK HATI YANG DALAM?

Bagi pasangan muslim, GAMBARAN CINTA MESRA ADALAH SUATU YANG SAKRAL. Ia perlu dipertahankan, menutupi ketidaksukaan suami kepada kelemahan istri menjadi suatu kewajiban nilai. Bukan sekedar ungkapan di bibir. “Dia tidak pernah mencela suatu makanan, jika dia suka ia makan, dan jika dia benci dia meninggalkannya” (HR Bukhari Muslim)

Kisah Aisyah dengan Rasulullah menjadi buah ibroh (pelajaran) teladan. Betapa Rasulullah menjaga cinta kasih dengan Aisyah selama mata belum berkatup. Ketika kaum Habsyi bermain tombak di masjid, Rasulullah bersikap aduhai mesra. Beliau mendedahkan kain sebagai hijab berlobang, agar Aisyah bisa menonton pertunjukan heroik tersebut. Aisyah melihat pertunjukan dari balik leher/tengkuk, agar sesekali bisa bersentuhan dengan dada Rasulullah.

Kisah lain, betapa Rasulullah bermain mesra. Lomba berlari. Sesekali Rasulullah berlari dengan lambat tapi pasti mengalahkan Aisyah. Sesekali beliaupun mengalah demi suka ria Aisyah, demi membahagiakan istri.

Inilah gambaran HIDUP IDEAL DAN NYATA. Rasulullah melaksanakannya dengan istri-istrinya. Kadang Aisyah pun iri pada sikap Rasul yang membanggakan Khadijah. Istri pertama beliau ini memberi kehangatan hidup, membela lahir dan batin, dikala rumah tangga jihad bergelombang. Khadijah lebih banyak mendapat duka dalam liku-liku pembentukan Qo’idah Ash-Sholbah.

SUAMI QONA’AH (SEDERHANA) 
“Tidak ada pada kami kecuali cuka, lalu Rasul minta cuka itu sebagai lauk. Lalu makanlah beliau berlaukkan cuka”, demikian tutur salah seorang istri Rasul.
 (HR Muslim)

Rasul selalu qona’ah (tidak neko-neko). Barangkali inilah salah satu kebanggaan para istri Rasul akan kepribadian beliau. Selain, beliau tampan, hangat, juga menyejukkan.

Tidak ada hati para istri yang gundah gulana disebabkan tindakan Rasul. Paling-paling sikap cemburu para istri terutama Aisyah bila ada wanita yang datang kepada beliau. “Jangan-jangan wanita ini menyerahkan diri untuk diperistri,” inilah ungkapan kekhawatiran Aisyah. “Tidakkah aku menarik perhatian beliau ?”, Aisyah berkontemplasi.

Bukan bersoalan itu yang berlaku pada Rasul. Beliau MENIKAHI BANYAK WANITA BUKAN DEMI NAFSU DUNIAWI, AKAN TETAPI DEMI DAKWAH, JIHAD DAN KELANJUTAN ISLAM.

Memang Aisyah pencemburu berat. Sulit diukur dengan neraca berapa berat tingkat cemburunya. Tetapi lebih cemburu lagi Rasulullah. Inilah ciri cinta yang masih melekat dalam dua pribadi sejarah. CEMBURU BUKAN HAL NEGATIF, TAPI SEBAGAI SUATU YANG INHEREN DALAM CINTA YANG FURQONI. Suami yang mempunyai rasa cinta kepada istrinya, tidak akan rela melihat istrinya diboyong atau digandeng oleh laki-laki lain. Jika sang istri ternyata dengan ?suka rela” mau diperlakukan seperti itu oleh laki-laki lain, maka sang suami akan berkata, “Saya harus menceraikannya”. Inilah cemburu yang hak (yang benar)

Kadang suami harus pergi jauh, lama tidak kembali, baik untuk mencari nafkah, menuntut ilmu atau menyeru kepada Islam. Dalam kisah kasih suami istri Islami, istri akan mentsiqahi (percaya) pada amal suaminya. “Suamiku tidak akan menyeleweng dari Islam”, hati kecil istri bicara. Istri pun di rumah menjaga kesucian dirinya. Ia tak akan menerima tamu di luar muhrim selama kepergian suami. Ia senantiasa menjaga anak-anak dan mendidiknya dengan pendidikan Islam serta menjaga segala harta dan wasiat suami. “Suamiku pasti kembali”, suara hati sang istri penuh yakin. “Kalau pun ia tidak kembali ke pangkuan, pasti dia kembali kepada-Nya”. Sang istri yakin betul akan takdir Allah. Ia selalu berprasangka baik kepada Allah dalam setiap keputusan-Nya yang hadir.

BERLAPANG DADA 
Sebagai manusia, kadang-kadang seorang istri hanyut dalam arus kemarahan. Ia membuat sesuatu yang ganjil. Dengan sebab tertentu ia merubah sikap terhadap suaminya. Suami merasakan kemarahan tersebut. Lalu, suami menerima dengan lapang dada. Ia bersabar dan bersikap mulia. PANDANGAN YANG DALAM AKAN HAKEKAT KEJADIAN WANITA MEMBUAT SUAMI BERTOLERANSI TERHADAP ISTRI, bahwa wanita itu dijadikan dari tulang rusuk yang bengkok. Jika sang suami memaksa untuk meluruskannya, maka ia akan patah. Namun jika dibiarkan, maka ia juga akan tetap bengkok.

Sebagaimana Rasulullah pernah menunjukkan sikap beliau ketika Hafsah istri beliu berpaling semalaman dari beliau. Umar memarahi Hafsah dengan keras, karena menganggap anaknya (Hafsah) berani berpaling dari Rasulullah. Umpatan Umar tersebut disampaikan kepada Rasulullah. Tapi, Rasulullah menanggapinya dengan senyum simpul.

SUAMI TIDAK LAYAK MENAMPILKAN SOSOK DOMINASI, tidak mau kalah dalam segala hal, kecuali hal-hal yang prinsip. Untuk hal-hal tertentu suami mau menerima keluhan rasa kesal istri. Suami menanggapinya dengan hati yang sejuk menantramkan, bukannya malah ikut-ikutan marah.

Suatu ketika, para istri shahabat mengelilingi Rasulullah, mengadukan persoalan pribadi. Pasalnya suami-suami mereka terlalu kasar (HR Abu Daud, Nasa’i dan Ibnu Majah) padahal dalam firman Allah :

“Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah). Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak”. (QS 4:19)

Dalil ayat ini menyuruh PARA SUAMI UNTUK MAMPU BERLAPANG DADA, MENERIMA FITRAH MANUSIAWI WANITA. Rasulullah pernah bersabda :

“Berwasiatlah kamu dengan cara yang baik kepada wanita sebab mereka dijadikan dari ulang rusuk yang bengkok. Dan sesungguhnya bagian yang paling bengkok di dalam tulang rusuk itu ialah bagian paling atas. Jika anda hendak meluruskannya secara keras dan paksa niscaya engkau akan patahkan dia dan jika anda membiarkan dia demikan ia akan senantiasa bengkok. Maka berwasiatlah kamu dengan baik kepada wanita”. (HR Bukhari Muslim)

Suami yang berlapang dada, sabar atau menerima beberapa kelemahan sifat manusiawi wanita akan menjadi simbol kejayaan. Ia bisa adaptif dengan berbagai kronik kehidupan keluarga. Ia tahu bagaimana mengatasi dan mengelula konflik internal dan friksi hubungan sosial dengan istrinya. Ia tahu pula bagaimana cara menyelami lubuk jiwa istrinya dengan bijak, lembut, cerdik.

Kebahagiaan istri secara psikologi dalam keluarga adalah mendapatkan “rewards” positif untuk hal-hal yang positif, dan bila SUAMI BERSIKAP KONSISTEN ANTARA UCAPAN DAN TINDAKANNYA.

PEMIMPIN YANG BAIK 
“Kaum lelaki adalah pemimpin (qowwam) bagi wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian harta mereka”.
 (QS 4:34)

KECERDIKAN DAN SIKAP MENERIMA KEKURANGAN ISTRI, AKAN MENINGKATKAN PAMOR SUAMI DI HADAPAN ISTRI. Dalam memperbaiki kekurangan itu ia berusalah dengan cara LEMAH LEMBUT. Kebencian atau yang menyakitkan istri akan timbul, bila istri dimarahi di khalayak ramai.

Pemimpin yang baik (suami) dalam keluarga adalah KETELADANAN DAN TANGGUNG JAWAB YANG PENUH AKAN AMANAH YANG DIBERIKAN KEPADANYA.

“Kamu semua adalah pemimpin dan semua pemimpin bertanggung jawab atas semua kepemimpinannya. Dan setiap penanggung jawah adalah pemimpin, dan lelaki adalah pemimpin atas kapasitas keahliannya, dan wanita adalah penjaga suami dan anak-anaknya, maka semua kamu adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas rakyatnya”(HR Bukhari Muslim)

Jadi ISLAM MENUNTUT KAUM LAKI-LAKI, AGAR BERGAUL IHSAN (BAIK) DENGAN ISTRI, SEBALIKNYA ISLAM JUGA MENYURUH ISTRI AGAR PATUH DAN TAAT SETIA KEPADA SUAMINYA DALAM BATAS-BATAS HALAL. Dengan demikian kisah kasih cinta suami istri senantiasa dalam batas rahmat. Insya Allah akan tetap langgeng. Amin.

*IKATLAH ILMU DENGAN MENULISKANNYA*
Al-Hubb Fillah wa Lillah,

=====
FERRY HADARY IMURA

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 3 Maret 2012

Pembaruan Hukum Keluarga di Negara-Negara Muslim

Pengertian

Hukum Keluarga yaitu sebuah peraturan hukum yang membahas hubungan interen keluarga yang mengkaji masalah perkawinan, percerain, perwalian, kewarisan, perwakafan (wakaf ahli) dengan segala akibat hukumnya.

Kategorisasi keluarga muslim dalam rangka pembaruan pada awal abad 20, Turki pada tahun 1917, Negara-negara jajahan Turki secara otomatis memberlakukan hukum keluarga Turki, dan gerakan Turki diikuti oleh Negara-negara lainya termasuk Indonesia telah mengadopsi Hukum keluarga Turki.

Kategorisasi Negara-negara yang melakukan Pembaruan.

  1. Negara-negara yang tidak sama sekali mau melakukan pembaruan, mereka hanya melakukan pembaruan hukum keluarga sesuai dengan mazhab fiqh yang mereka anut, contohnya yaitu Saudi Arabiah (menganut mahzab Hambali)
  2. Negara-negara yang sama sekali meninggalkan hukum keluarga Islam, namun mereka mengganti dengan hukum Civil Eropa, contohnya yaitu Negara Turki (menganut hukum Civil Eropa dari Swiss)
  3. Negara-negara yang berusaha memberlakukan hukum keluarga Mazhab dengan memberlakukan tujuan pembaruan hukum keluarga di Negara-negara Muslim, terbagi atas 3 tujuan:

a)      Tujuan unifikasi hokum keluarga di Negara yang bersangkutan dengan penyeragaman hukum, unifikasi tersebut yaitu:

  • Unifikasi berlaku untuk muslim dan non muslim.
  • Unifikasi berlaku untuk muslim dengan menyatukan dua aliran besar dalam Islam yaitu Sunni dan Syiah, contonya yaitu Negara Irak dan Iran.
  • Unifikasi berlaku untuk muslim dengan memberlakukan antar mazhab dikalangan Sunni.
  • Unifikasi berlaku untuk muslim saja dalam bentuk satu mazhab saja, dijadikan sebagai mazhab yang terkait dengan Negara, seperti halnya dengan:

–          Fiqh adalah pemikiran yang tidak dijadikan undang-undang/tidak mengikat.

–          Qonun adalah fiqh Ta’nin, pemahaman yang dijadikan undang-undang.

–          Yurisprudensi adalah pemahaman hakim terdahulu, dapat dijadikan rujukan pakar-pakar hukum yang lain.

–          Fatwa adalah pemahaman terhadap suatu perkara yang muncul setelah adanya perkara.

b)      Tujuan peningkatan Status Wanita

Adanya isu-isu gender yang berangkat dari hokum keluarga hingga akhirnya Undang-undang No.1 tahun 1974 diubah untuk lebih pada peningkatan status derajat wanita, harkat dan martabat wanita.

c)      Tujuan menyesuaikan denan perkembangan zaman.

Adanya perubahan zaman yang terus-menerus agar tidak tertinggal dengan perkembangannya.

Pola Bentuk Pembaruan Hukum Keluarga Muslim

Pola bentuk pembaruan ini terbagi atas dua yaitu:

  1. Intra Doctrinal Reform

Pembaruan yang masih berkisar pada pendapat-pendapat iman mazhab, dengan model:

  • Talfif : mencampur adukan dengan undang-undang
  • Tahayyur : tetap pada satu mazhab yang diikuti
  1. Extra  Doctrinal Reform

Pola pembaruan yang sudah keluar dari Imam Mazhab, contohnya yaitu Poligami dilarang di Tunisia padahal dalam al-qur’an tidak dilarang.

Dengan dua pola:

  • metode siasyah syar’iyah
  • interpretasi nash (melakukan ijtihad sendiri)

Isu-isu Pokok Undang-undang Islam Yang Mengalami Pembaruan Hukum

Hal ini mendapatkan perhatian, diantaranya yaitu:

  1. pembatasan usia minimal kawin dan jarak umur pasangan
  2. masalah perwalian, peran wali dalam pernikahan
  3. persoalan pendaftaran dan pencatatan pernikahan
  4. masalah pembiayaan pernikahan, ada batas maxsimal mahar
  5. masalah poligami
  6. masalah nafkah istri dan keluarga
  7. persoalan talak dan cerai dimuka Pengadilan
  8. persoalan hak-hak perempuan setelah cerai
  9. masalah hamil dan akibat hukumnya, anak diluar nikah
  10. masalah hadhonah,  hak pengasuhan anak pasca cerai
  11. masalah hak waris
  12. masalah wakaf ahli, keabsahan dan peralihan wakaf ahli
  13. masalah wasiat bagi ahli waris.
sumber : Euis Nurlaelawati ( dosen fakultas Hukum UIN Syahid Jakarta)
Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 17 Desember 2011

Makna Kita di Hadapan Pasangan

Kehidupan suami istri adalah salah satu sarana kehidupan meraih amal ibadah terbaik kepada Allah. Tidak sedikit kehidupan rumah tangga yang tak menjadi indah dimata pasangan kita atau mungkin dihadapan kita sendiri. Untuk itu kita harus mengetahui, dapat menempatkan diri dan memelihara kwalitas diri kita terhadap pasangan kita. Bagaimana pasangan kita memandang kita? Dianggapkah, pentingkah,dibutuhkan setiap saatkah, dipercayakah. Sebagai pasangan kita harus konfirmasi, hal ini adalah kunci bagaimana pasangan kita memandang kita.

Sebenarnya yang membuat pasangan kita memiliki persepsi negatif kepada kita hanya satu alasanya “tidak ada kehadiran kita untuk pasangan kita” misalnya : seringkah kita atau pasangan kita saling menawarkan bantuan kepada pasangan kita ” pah..ada yang bisa mama bantu?” ketika kita merasa suami kita membutuhkan sesuatu hal. Bercermin kepada Khadijah terhadap Rasulullah, Rasulullah bersabda “tidak, demi Allah. Allah belum memberiganti dengan istri yang lebih baik daripadanya. Ia beriman padaku ketika semua manusia ingkar. Ia membenarkanku ketika seluruh manusia mendustakan. Ia membantuku dengan hartanya ketika semua manusia menahannya, dan Allah mengaruniakan kepadaku anak dari dia, tidak dari yang lain..”. Rasulullah sangat puas dengan kehadiran Khadijah yang totalitas. Bercermin dari itu, Oleh karenanya jangan sampai saat pasangan kita membutuhkan kehadiran kita, kita tidak hadir, bahasa sekolahnya “sering absen”.

Kadang kala pasangan kita tidak dapat jujur karena takut dengan respon..misal: “pah..mama dimata papa itu bagaimana sih?” suami menjawab “mama sih sudah is the best..tapi agak boros belanjanya..”. Belum belum istri marah marah “papa sih ga tahu kalau harga harga naik!”.. Padahal kadang kala suami atau istri jujur itu untuk saling mengoreksi, agar sama sama bisa mengontrol diri, sama sama bisa saling toleransi dalam segala hal. Hati hati kadang kala istri bisa terlalu hedonis..Misalnya pusing..jadinya brosing..swiming..shopping..dan ing ing yang lainya, jadinya sibuk sendiri. Apapun dari pasangan kita itu adalah prestasi kita. Inilah makna prestasi kita dihadapan suami atau istri kita, marilah saling melengkapi, saling membutuhkan agar arti kita dihadapan pasangan kita terlengkapi atau lebih berkwalitas, agar ibadah kita dalam rumah tangga baik dimata pasangan kita dan Allah.

Karena cinta itu kata kerja..harus diupayakan..memperbaiki dengan segala upaya tentunya sesuai ridho Allah. Jika ada masalah kecil harus segera dibicarakan, segera menuju solusi bersama. Semua media komunikasi dijalankan, diskusi, keterbukaan dan nasihat nasihati. Jangan sampai memblogking diri. Bersama tapi tidak saling menghadirkan diri, hal ini harus segera dijauhkan, kita harus lebih menjadikan kebersamaan dan kehadiran kita lebih berkwalitas untuk dihadirkan, alhamdulillah kita dihadapkan dengan pernikahan, alhamdulillah dititipkan pasangan hidup hingga jannahNya..

sumber : ustzah Mimin Aminah ( MQ FM bandung)

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 31 Juli 2010

“Sahabat Perjuangan” Vs “KDRT”

Pembahasan fiqh mengenai kekerasan dalam rumah tangga lebih banyak mengarah  kepada pemikiran tentang bagaimana seharusnya kehidupan rumah tangga sakinah dijalani. Dalam konteks ini, menurut M.Quraish Shihab, bahwa tali perkawinan itu: cinta, mawaddah, rahmah, dan amanah Allah. Jika seandainya cinta, mawaddah, rahmah hilang, namun bagi orang yang beragama masih ada amanah Allah yang harus dipegang teguh, sebab Allah berfirman dalam Qs. An-Nisa’ (4) : 19, yang artinya:

“…Dan bergaulah dengan mereka secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikannya kebaikan yang banyak.”

Karena menurut terminologi, Hukum Islam merupakan gabungan dari syariat dan fiqh secara sederhana dapat kita ketahui adalah seperangkat peraturan berdasakan wahyu Allah dan sunnah Rasul tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui berlaku dan mengikat untuk semua orang yang beragama Islam….so, perlu kita ketahui dari sekarang,,,supaya kelak kita mendapatkan keberkahan dari hidup setelah membujang. Siapa lagi teladan yang patut kita teladani, Rasulullah Saw memiliki kehidupan yang membuat kita tersipu-sipu saat membaca sejarah keteladanan beliau, seorang kepala keluarga yang selalu santun terhadap istrinya, fragmen keteladanan beliau:

Ketika seorang Badui Arab bertanya kepada Aisyah, bagaimana akhlak Rasulullah dalam kehidupan rumah tangga? Aisyah hanya menjawab, “Ah semua perilakunya indah.” Ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. “Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, “Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap Tuhanku terlebih dahulu.”

Pada kesempatan yang lain, Aisyah sungguh terkejut ketika menjelang subuh, Aisyah tidak menemukan suaminya berada di sampingnya. Ketika keluar membuka pintu, Aisyah terkejut. Dia melihat Rasulullah tidur di depan pintu. Dalam keterkejutannya, Aisyah bertanya, “Mengapa engkau tidur di sini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.”

Beginilah Rasulullah Saw, manusia yang istimewa mampu membuat orang-orang  didekatnya menjadi teristimewa. Hal ini sangat berbeda jauh dari kondisi modernisasi  seharusnya ketegasan yang dilakukan suami dan kepala keluarga harus melihat kepada manfaat dan permasalahan yang terjadi. Juga jangan sampai berlebihan sehingga menjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Jadikanlah ketegasan tersebut sebagai obat dan vaksin dalam mencegah munculnya nusyuz dan pelanggaran syari’at dalam rumah tangga. Jangan sampai suami membiarkan istri berbuat pelanggaran agama hanya dengan dalih khawatir melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), sebab membiarkan isteri maksiat tanpa ada teguran dan tindakan terapinya merupakan perbuatan tercela dan diancam Allah dengan siksaan yang berat. Sebagaimana dijelaskan dalam sabda Rasululloh Shallallahu’alaihi Wasallam :

Artinya: “Tiga orang yang Allah tidak melihat mereka pada hari kiamat; orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan tomboy (menyerupai lelaki) dan ad-Dayûts.” (HR al-Nasaa’I dan dishahihkan al-Albani dalam Silsilah al-Shohihah 2/229). Ad-Dayyûts ini dijelaskan Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam ketika ditanya:

Artinya: “Dan ad-Dayûts adalah yang membiarkan kemaksiatan pada keluarganya” [HR Ahmad dan dishahihkan al-Albani dalam Shahih al-Jami’ as-Shaghir No. 5363].

Melarang istri dari perbuatan dosa dan maksiat termasuk ketegasan suami dan bukan termasuk KDRT, walaupun terkadang tampak mengekang kebebasan istri, hal ini tidak perlu sampai dengan memindahkan tangan ke anggota tubuh istri.

Saling Memahami Hak dan Kewajiban

Hal yang sering salah kaprah dipahami dalam bermuamalah, baik itu di rumah tangga atau di masyarakat pada umumnya adalah keinginan seseorang untuk memperoleh hak, sering lebih didahulukan daripada menunaikan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakannya. Islam mengajarkan kepada kita, bahwa setiap muslim harus terlebih dahulu memperhatikan kewajiban yang mesti ia tunaikan.

Adapun hak seseorang dalam pandangan Islam, akan ia peroleh dengan sendirinya jika ia telah selesai menunaikan apa yang menjadi kewajibannya. Realita menunjukan suatu masyarkat yang terlalu banyak menuntut haknya, maka dijamin masyarakat tersebut akan berantakan dan kehidupannya kacau balau. Demikian pula kehidupan rumah tangga.

Jika sang istri terlalu banyak menuntut haknya, demikian juga sang suami maka hal ini memicu adanya rumah tangga yang jauh dari sikap akur yang ada hanyalah selalu ramai dengan pertengkaran dan perselisihan. Akan tetapi jika masing-masing lebih mengedepankan pelaksanaan kewajiban masing-masing terhadap pasangannya, keluarga tersebut akan berjalan dengan penuh keharmonisan, saling memahami.

Kepercayaan hendaknya selalu dipupuk agar cinta semakin segar seindah embun pagi, ketika kita sudah hidup dikarunia Allah seorang teman hidup yang dengan cintanya, keteguhan hatinya dalam dakwah dan ma’isyahnya untuk keluarga dan masyarakat, apalagi yang kita butuhkan?

Ingatlah ketika perjuangan disaat membujang, kita sering bingung ingin berbagi perasaan kita dengan orang lain, saat kita ingin pergi jauh tanpa teman mahram, saat kita butuh menyandarkan kepala kita yang berat, bersyukurlah dengan karunia Allah SWT karena kita telah memiliki sahabat perjuangan menuju JannahNya, hormatilah, perlakukanlah ia dengan lembut, jaga kehormatannya, dan tuntunlah ia agar ia bisa menjadi bidadari Dunia.

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 9 Juli 2010

PoLigaMi…Ribet kaH??

Meski poligami sering dibicarakan, controversial, dan biasanya ditolak dengan berbagai argumentasi, baik yang bersifat normative, psikologis, dan ketidak adilan gender. Tetepi disisi lain justru poligami dikampanyekan sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan fenomena selingkuh dan prostitusi. Padahal pada dasarnya hukum keluarga di Indonesia menganut asas perkawinan monogamy (satu istri), tetapi peraturan tersebut tidak bersifat mutlak, hanya bersifat pengarahan saja dan jalan mempersempit penggunaan lembaga poligami dan tidak menghapus sama sekali praktik poligami. Dibeberapa penelitian, menunjukkan bahwa pelaksanaan izin poligami di Pengadilan Agama oleh Undang-undang perkawinan, diperbolehkan… selama hukum dan agama dari yang bersangkutan mengizinkannya :

  1. seorang suami dapat beristri lebih dari seorang apabila terpenuhinya alasan dan persyaratan tertentu, serta harus mendapat izin dari Pengadilan Agama melalui prosedur persidangan di Pengadilan Agama.
  2. Pelaksanaan izin poligami harus berdasarkan pada hukum Islam yaitu dalam al-Quran Qs. An-Nisa’ (4): 3 dan al-hadist yang berkaitan dengan poligami, yang terdapat: aturan poligami, batas istri dalam poligami, dan kewajiban suami yang berpoligami. (nah,,,di sini ni…buanyak controversialnya,,,klw mw di bahas gak abis-abis,,,jadi kita bahas yang lain aja..okey…)
  3. Selain itu pelaksanaan izin poligami juga harus berdasar pada hukum perundang-undangan di Indonesia yaitu UU No.1 tahun 1974 tentang Perkawinan, Peraturan Pemerintah No.9 tahun 1975 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-undang Perkawinan, Peraturan Pemerintah No.10 tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Sipil, Peraturan Pemerintah No.45 tahun 1990 tentang Revisi atas Pereturan Pemerintah No.10 tahun 1983, dan Intruksi Presiden No.1 tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam (KHI) dan KUH Perdata (BW), di dalamnya selain memuat tentang aturan poligami, batas istri dalam poligami dan kewajiban suami yang berpoligami juga memuat perjanjian atas istri ke-2, ke-3 dan ke-4 serta hukuman pidana bagi pihak yang melanggar. (temen-temen cukup tw aja,,,coz klw mw tw pasal-pasalnya pasti punyeng,,,dan nge BT in… B)

Nah….
Sebenernya Pemerintah memang sudah mempersempit jalan poligami, tapi hal ini justru menjadi tantangan bagi kaum adam untuk beristri lebih dari 1,, buktinya banyak yang poligami dengan cara legal,,, atas izin Pengadilan Agama dengan 1 syarat alternatif (istri tidak dapat menjalankan kewajibannya, istri mengalami cacat badan/ penyakit kronis yang tidak dapat disembuhkan, istri tidak dapat melahirkan keturunan) dan 3 syarat kumulatif (persetujuan dari istri pertama/ istri2nya, kemanpuan finansial suami untuk mencukupi kebutuhan istri dan anak2ny, kemampuan suami berlaku adil terhadap istri dan anak2nya)…

Menurut hemat saya…
Untuk apa melewati tantangan itu,,,yakin,,,dapat,,,berlaku adil,,,adil itu banyak perspektifnya lho…tergantung siapa yang berpendapat…tergantung kebutuhankah, keinginan buta, irikah,,,dll,,,

yang terpenting nih…kan pada akhirnya ada pertanggungjawaban yang lebih dahsyatttt…di akhirat nanti…. di dunia harus berhadapan dengan hakim untuk memproses poligaminya… yahh.. hakimnya.. juga manusia… nahhh… di akhirat kelak, hakimnya langsung sama Allah…(saya langsung tidak bias berkata-kata,,, kaum adam..renungkanlah…..🙂
Tujuan kita menikah, kan salah satunya untuk mendapatkan keturunan yang bergenerasi Rabbani..pada dasarnya poligami memiliki dampak yang sangat serius bagi psikologis anak-anak kita kelak…salah satunya adalah bagaimana keadaan anak setelah berfikir “kenapa saya punya ibu banyak, kenapa teman-teman saya Cuma punya satu ibu” (jika keadaannya tinggal serumah dengan beberapa istri), dan bagaimana sang anak menjawab pertanyaan teman-temannya kenapa ayahnya punya istri lebih dari satu, hal ini bisa jadi dianggap tidak normal oleh teman-temannya (kasus yang udah-udah si kayak gini) nah,,,disini peran orang tua lagi,,,😉 mereka harus dapat memberikan penjelasan sekaligus imunisasi bagi sang anak, jangan sampai anak kita yang kita cita-citakan sebagai generasi rabbani justru menjadi generasi yang tidak kita inginkan karena, kita tidak mampu mendidik mereka akibat dari perbuatan kita juga sebagai orang tua.padahal anak adalah amanah Allah,,, yang pastinya menjadi tujuan kita untuk memperbanyak amal ibadah dan tujuan kita untuk bermuamallah, dll…jika anak kita kelak menjadi anak yang sholeh/sholehah (amin..) lah…yang pastinya orangtua (kita,,,cieng…cieng…) yang kecipratan amalnya,,,insyallah dari anak kita malah dapet segudang barokah kehidupan (insyallah dunia-akhirat…)

Tulisan ini di sadur dari beberapa buku fiqh munakahat,,Hukum Pernikahan di Indonesia,,dan Perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Tulisan ini di buat untuk temen-temenku yang memang dah gak SMA lagi kan,,dah pada lulus, kerja,,pastinya akan mendekati hidup kejenjang selanjutnya,,meski pengetahuan seperti ini buaanyyyaakkk,,tinggal Tanya ma paman google,,, tapi kan lebih enak rasanya kalau sulis yang ngajak ngobrol,, he,,,he,, semoga bermanfaat,,,,/(^^)\..😛

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 7 Juli 2010

Mukhoyyam

Mukhoyyam merupakan kata yang diambil dari bahasa Arab yang artinya perkemahan. Mukhoyyam atau Ribatul jihadiyah, yang dapat membentuk kita menjadi insan yang bersungguh-sungguh dalam dakwah sangat-sangat penting. Mukhoyam menjadi suatu kewajiban yang tingkatannya sama dengan kewajiban usar (liqo’), tatsqif, dauroh, tatsqif, mabit dan sarana tarbiyah lainnya. Tidak perduli tua atau muda, senior atau pun pemula. Dan mukhoyyam pun harus ditunaikan baik dalam kondisi lapang maupun sempit, dalam kondisi rizki melimpah ataupun seret. Sebab, mestinya setiap kader dakwah sudah jauh-jauh hari menyiapkan waktu dan amal untuk menyongsong event serius ini.

Berangkatlah kamu baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa pada jalan Alloh. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (QS. At-Taubah [9] :41)

Inilah salah satu ayat yang  mengetarkanku untuk berangkat mengikuti mukhoyyam meskipun butuh perjuangan untuk menuju ke tempat mukhoyyam, padahal dalam aturannya tidak ada kebijakan untuk menyusul ketempat mukhoyyam, kami bertiga nekat menuju tempat mukhoyyam dengan ngeteng, alias berangkat sendiri tidak dengan rombongan, butuh kesabaran,,,sungguh waktu itu hujan lebat, dan kami harus naik turun angkutan sampai 3 x, kami bukan hanya bertiga lho, tapi berenam karena tas cariel yang bersama kita beratnya 60 liter, hehehe, subhanallah…ini baru berangkat didataran rendah, gimana kalau nanti kita harus naik gunung dengan cariel yang 60 liter, nah itu dia awalnya harus dimulai dari hal kecil, untuk selanjutnya akan terus diupayakan, latihan fisik dengan olah raga rutin tiap sepekan sekali…nah, kenapa kita perlu mukhoyyam?

Mukhoyyam Merupakan Sarana tarbiyah

Manusia terdiri dari 3 unsur dasar yaitu: akal, ruh dan fisik. Pembinaan manusia seutuhnya menemukan kesempurnaannya apabila melingkupi ketiga unsur tersebut. Tarbiyah Islamiyah harus mencakup tarbiyah fikriyah, tarbiyah ruhiyah dan tarbiyah jasadiyah. Ketiganya harus saling mengisi dan melengkapi. Berbeda dengan sarana tarbiyah yang lain yang mencakup satu atau dua aspek, mukhoyyam mencakup ketiga aspek tersebut di atas, meskipun aspek jasadiyah lebih dominan terutama pada jenjang-jenjang awal.

Mukhoyyam yang merupakan pengembangan dari kelompok-kelompok rihlah bukan hanya sudah menjadi tradisi jamaah sejak awal didirikan oleh Imam Asy Syahid, tetapi sudah berkembang menjadi salah satu wasaa’il tarbiyah (sarana tarbiyah) yang penting. Dalam manhaj 1421 buku panduan pembinaan kader-kader Islam dan dakwah, Manhaj Tarbiyah Islamiyah 1421 H, Bab IX tentang sarana disebutkan bahwa sarana tarbiyyah kita adalah: Halaqah, Usrah, Tatsqif, Daurah, Ta’lim, Mabit/Lailatul katibah/Jalsah Ruhiyah, Rihlah, Mukhoyya.

Hal ini berarti Mukhoyyam sama kedudukannya dengan sarana tarbiyah yang lain dan wajib dilaksanakan dalam proses tarbiyah, hanya berbeda fungsi, muatan dan teknis pelaksanaannya. Usrah, halaqah, tatsqif merupakan kewajiban pekanan. Daurah, ta’lim, mabit dan rihlah merupakan kewajiban bulanan atau beberapa bulanan. Sedangkan mukhoyyam merupakan kewajiban tahunan.

Menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud dalam buku “Wasaa-ilut tarbiyah ‘inda Ikhwaanil Muslimin” (Perangkat Tarbiah IM, Intermedia):

“Mukhoyyam tidak bisa digantikan oleh perangkat tarbiyah lainnya. Sepanjang sejarah jamaah, mukhoyyam merupakan perangkat yang sangat menonjol dan selalu dibutuhkan oleh perangkat tarbiyah lainnya”. Bahkan mukhoyyam disebut oleh para masyayikh sebagai mukammilut tarbiyah karena menyempurnakan perangkat-perangkat tarbiyah lainya.

Sebagai sarana tarbiyah mukhoyyam berfungsi sebagai: Sarana tajammu’, tarbiyah dan tadribah kader dengan mukhoyyam para kader dapat berkumpul untuk berinteraksi, saling  mengenal, saling memahami, bekerja sama dan saling menolong. Para  peserta juga mendapatkan shibghah islami, melatih disiplin, melatih berbagai  ketrampilan maupun keahlian yang sangat bermanfaat dalam kehidupan  sehari-hari maupun dalam kondisi-kondisi tertentu.

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 28 Desember 2009

CiNta di RuMah HasaN AL-BaNNa

Biasnaya Anggapan tentang pendidikan anak hanya tanggung jawab seorang ibu masih berkembang di masyarakat, memang tak ada yang menafikkan peran-peran besar yang ada di tangan seorang ibu bagi masa depan anak-anaknya. Bagaimanapun ibu mempunyai pengaruh pada perkembangan kepribadian anak, sehingga mereka bisa merasakan kenyamanan, keteduhan, dan kepercayaan diri yang kuat menjalani hidupnya, lalu bagaimanakah peran seorang ayah…???

Tulisan ini akan membuka sedikit demi sedikit lembar kehidupan seorang ayah dalam pembinaan keluarganya. sebuah kisah yang diambil dari sejumlah wawancara beberapa media terhadap anak-anaknya, yang mengurai pengalaman dan kenangan mereka saat ayah mereka hidup. yang sehari-ari begitu padat dengan aktifitas di luar rumah. dialah Imam Syahid Hasan Al-Banna, Semoga Allah SWT merahmatinya..

Mari Bertamu Kerumah Hasan Al-Banna…

Al-Banna rahimahullah dirumahnya adalah seorang ayah yg kebaikannya begitu mengesankan anggota keluarga, ia memberi contoh yang agung dalam penunaian misi seorang ayah yang berhasil..beliau dikarunia 6 orang anak (Wafa, Ahmad Saiful Islam, Dr.Tsana, Ir.Roja’, Dr.Halah, Dr.Istisyhad)

Praktek Tarbiyah Hasan Al-banna…

1. Makan Bersama yang menjadi prioritas..
Imam Hasan Albanna mempunyai catatan memukau dalam sejarah kehidupan dakwahnya,beliau telah berhasil membentuk sebuah gerakan dakwah “Ikhwanul Muslimin” hanya 6 Bulan,membentuk sayap Al ikhwan di 20 negara, dan membentuk 2 ribu cabang. Tapi ternyata beliau masih mampu menyempatkan waktu untuk makan bersama anak2nya di rumah, saat-saat ini merupakan waktu yang prioritas bagi beliau. Siapakah diantara para juru dakwah yang merasa tidak punya waktu lagi hanya sekedar makan bersama anak-anak di rumah??

2. Tak ada suara keras di Rumah kami..
Tsana Bercerita,”Kami tidak pernah merasakan adanya beban kegiatan yang dirasakan ayah selama di rumah. Misalnya saja kami tidak melihatnya seperti kebanyakan orang yang kerap berteriak atau bersuara keras di dalam rumah dan semacamnya sebagai akibat dari tekanan mental dan fisik setelah banyak beraktifitas di luar rumah. Jika anda baca bagaimana kehidupan ayah, engkau akan lihat bahwa semuanya berjalan sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah SAW.

3. Perhatian Hasan Al-banna…
Anak adalah investasi besar untuk dakwah dan tentu saja untuk kemanusiaan secara keseluruhan. karena itu beliau melakukan perencanaan yang baik untuk semua anak2nya.Beliau menyediakan catatan untuk masing2 anaknya didalam map yang berisikan detail sejarah dan tanggal kelahiran,nomor kelahiran, pola pengaturan makanan bagi si kecil, surat keterangan dokter atau resep dokter yg memeriksa anak2nya,rincian resep yg telah diberikan lengkap dg tanggal kelahirannya, ijazah dan raport anak2nya. sangat -sangat teratur sekali, hampir tak ada tumpang tindih dalam dokumennya.
beliau juga mempunyai kebiasaan yang mungkin jarang dilakukan oleh seorang ayah,beliau biasa membawakan makan pagi ke sekolah TK anak2nya, simak perkataan salah seorang anak beliau, Ir.Roja Hasan Albanna,”Aku ingat, ayah semoga Allah merahmatinya-biasa membawakan makan pagi ke sekolah ku ketika usiaku masih 5 tahun.itu karena perhatiannya begitu besar kepadaku agar aku bisa makan pagi. ketika itu aku memang sering lupa membawa roti untuk makan pagi kesekolah atau mungkin pula makananku diambil oleh teman2-teman di sekolahku. ayah sangat berusaha membawakan makan pagi itu setiap hari ke sekolah meskipun kesibukannya luar biasa. tapi beliau tetap tidak melupakan kami…
Beliau juga sangat perhatian terhadap urusan rumah. beliau menulis sendiri keperluan yang dibutuhkan keluarga setiap bulannya.Puteri Al Banna, Tsana mengatakan,”Ayah mempunyai catatan sendiri tentang kebutuhan bulanan rumah kami.sampai terkait sejumlah bahan makanan yang hanya ada sewaktu-waktu saja sesuai musimnya, semisal kacang, zaitun, nasi dan semacamnya. juga termasuk dalam catatan kebutuhan ayah. ayah memantau baik kapan musim2nya tiba dan membelinya untuk kami dirumah. itu karena ayah tahu, ibu sangat sibuk mengurus rumah.”

4. Menasehati tidak secara langsung
Orang tua memang tidak dianjurkan untuk tidak segera memberi pemecahan langsung terhadap persoalan yang dihadapi anak. itu menjadi salah satu pola pendidikan agar anak terlatih membuat keputusan sendiri, bukan karena suruhan atau tekanan dari pihak lain. Tsana mengisahkan,”ayah pernah memberi nasihat secara tidak langsung kepadaku. Aku ingat ketika saudaraku Saiful islam yang sangat suka membaca cerita komik.ketika itu ayah tidak mengatakan kepadanya, agar buku itu tidak dibaca. tapi ayah pergi dan memberinya kisah2 kemuliaan islam.sampai setelah beberapa waktu meninggalkan sendiri buku Arsin Lobin dan lenih banyak membaca buku dari Ayah. ayah suka mengarahkan kami dengan tidak secara langsung agar apa yang kami lakukan itu tumbuh dari diri kami sendiri, bukan dari perintah ataupun tekanan siapapun.

5. Menyemai Cinta Dengan Cara Langsung
Memberikan arahan, nasihat, memerintahkan, melarang tidak menjamin kesuksesan dalam mendidik anak kecil.Bahkan umumnya,langkah seperti itu saja justru mermancing mereka menolak dan jiwa mereka sempit untuk melakukan sesuatu yg diinginkan. Cara yg baik dan benar adalah dengan menanamkan nilai dalam jiwa melalui cara praktis, misalnya menuntun tangan sang anak untuk melakukan sesuatu sekaligus menjelaskan caranya dengan kecintaan dan kehati2an, serta latihan untuk menerapkannya.
Saiful Islam menceritakan,”Suatu ketika datang sekelompok Ikhwan untuk bertemu ayah.aku menerima mereka dipintu rumah dan segera bertanya,”Apakah kalian datang untuk berkunjung kepadaku atau untuk ayahku?. Lalu mereka menjawab kedatangan mereka untuk ayahku, Baik kalau begitu biarkanlah ayah saja yang membukakan pintu untuk kalian. Aku lalu menutup pintu dihadapan mereka dan meninggalkan mereka begitu saja. Setelah mereka menceritakan peristiwa itu kepada ayahku.ayah lalu datang kepadaku dan bertanya apa yang terjadi. Aku menceritakan kepada ayah,t api ayah tidak marah dan menghukumku. ayah justru menyodorkan kesepakatan yang mengejutkan. Katanya, “Saif, bagaimana bila ayah yg memuliakan tamumu? ayah yg menerima mereka,dan mempersilahkan mereka masuk kemudian memperlakukan mereka sebagaimana tamuku.lalu ketika ada tamu datang untuk berkunjung kepadaku, engkau memperlakukannya sebagaimana tamumu…”setelah itu, tercapailah kesepakatan antara kami untuk memperlakukan tamu dengan baik.dan kesepakatan itu benar-benar terlaksana dg komitmen diantara kami.”saat ditanya tentang usianya saat itu, saiful menjawab,”Ketika itu aku berusia 10 atau 11 tahun”.

6. Ayah dan ibu kami, pasangan romantis dan harmonis..
Hubungan yang harmonis dan baik antara ayah dan ibu, mempunyai pengaruh dahsyat dalam perilaku anak.ayah dan ibu adalah figur hidup dan pengalaman nyata bagi seorang anak, yang akan kuat tertanam dalam pikiran dan jiwanya.seorang anak akan membina nilai2 hubungan yang baik itu dan akan memberi manfaat besar kala ia dewasa dan menikah.
Tsana, puteri Hasan Al BAnna menceritakan,”Pernah suatu hari ayah pulang agak malam dan ibuku sedang tidur. Ketika itulah saya bisa melihat penerapan firman Allah SWT,”Dan (Dia) menjadikan di antara kalian rasa kasih dan sayang”..Ketika itu ayah tidak membangunkan ibu sama sekali, sampai ayah menyiapkan sendiri makannannya dan seluruh keperluannya untuk menjamu makan malam untuk para Ikhwan yang datang.Ayah kulihat masuk ke dapur dan mempersiapkan makan malam sendiri. Ayah tahu letak semua bumbu dan perabotan di dapur lalu secara bertahap ayah menyiapkan makanan, kue dan minuman untuk para ikhwan. Ayah juga menyediakan roti dan menyusun meja makan sampai mereka bersantap malam bersama.
Saiful Islam menceritakan hal yang serupa.Katanya,”Jika pulang larut malam,ayah tidak pernah mengganggu seorangpun. Padahal kunci rumah kami cukup panjang sehingga jika dibuka apalagi dengan serampangan, pasti akan menimbulkan bunyi, suatu malam aku belajar hingga larut malam. Betapa terkejutnya aku ketika melihat ayah sudah berda di dalam rumah, padahal aku tidak pernah mendengar suara pintu terbuka. ternyata ayah membuka pintu dengan sangat hati2 dan sepelan mungkin.

7. Ayah Memberi kami hukuman
Tradisi lemah lembut dalam mengelola keluarga mempunyai bvanyak manfaat. lemah lembut akan menambah ikatan batin antara anggota keluarga dan memperkuat pertalian keluarga.
Saiful Islam menceritakan, Hukuman yang paling berat yang diberikan ayah kepada salah seorang diantara kami adalah jeweran di telinga, Suatu ketika, telingku dijewer dan ini merupakan hukuman yang paling berat yang aku rasakan. Masalahnya,suatu pagi ada kesalahan yang aku lakukan, tapi ketika siang harinya,sekitar jam 11 siang, ayah meneleponku untuk menenangkan aku dan memperbaiki hubungan kami. Peristiwa itu sangat berpengaruh pada jiwaku.
Tsana mengatakan,”jarang sekali ayah menghukum kami kecuali bila ada suatu yang memang dianggap kesalahan berat atau terkait dengan pelanggaran perintahnya yang sebelumnya sudah diingatkan kepada kami. Aku mendapat hukuman 2x dari ayah, kali pertama ketika aku keluar tanpa memaki sandal dan kedua ketika aku memukul pembantu di rumah.Suatu ketika aku duduk diatas tangga dan melihat ayah datang dari kejauhan. Aku segera bangun dan menghampirinya tanpa menggunakan sandal. Padahal ayah sudah mempersiapkan sandal untuk bermain dan sepatu untuk kesekolah. Ketika itu ayah melihatku sebentar saja, hanya sepintas.dan saat itu pula aku sadar bahwa pasti aku akan mendapatkan hukuman, aku segera kembali ke rumah. Setelah para ikhwan pulang,ayah masuk keruang makan dan memanggilku.aku datang dengan langkah lambat karena takut.ayah berkata,: “Duduklah di atas kursi dan angkat kedua kakimu.”Ayah lalu memukulku dengan penggaris pendek.masing2 kaki dipukul 10x.tapi terus teang sebenarnya aku ingin tertawa,karena pukulannya pelan sekali sampai aku tidak merasakannya. Ayah hanya ingin membuatku mengerti bahwa aku telah melakukan kesalahan.”

8. Ayah Menemani Kami saat bermain
Permainan merupakan masalah penting dalam membangun karakter anak saat kecil.Dahulu Rasulullah SAW juga biasa bermain dan bercanda dengan anak2 kecil.disanalah Beliau memberikan rentang waktu untuk mengistirahatkan jiwa. anak yang dapat kesempatan bermain dan bercanda d4engan orang tuanya akan hidup dalam suasana yang menggembirakan. jauh dari sikap kasar dan bisa tumbuh besar dengan sikap yang baik.
Tsana menceritakan, “Ayah membawakan kami sandal untuk bermain dan sepatu untuk ke sekolah, saat liburan, Ayah selalu mengajak kami berjalan, jika ayah mengajak kami, kami tidak lepas dari pantauannya.Ayah juga mengajak kami ke rumah nenek dan paman, agar kami bisa melewati liburan di rumah mereka.kami menikmati kebun2 hijau dan taman2 yang indah. kami melewati hari yang sangat bahagia dalam masa kanak-kanak kami di tempat yang indah ini.

Referensi buku : “Cinta di Rumah Hasan Al – Banna”. oleh : Muhammad Lili Nur Aulia.

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 27 Desember 2009

Siapakah Suamimu di Syurga ??

بسم الله الرحمن الرحيم

oleh:  Al-Ustadz Abu Muawiah

Tahukah anti siapa suami anti di surga kelak?(1) Artikel di bawah ini akan menjawab pertanyaan anti. Ini bukan ramalan dan bukan pula tebakan, tapi kepastian (atau minimal suatu prediksi yang insya Allah sangat akurat), yang bersumber dari wahyu dan komentar para ulama terhadapnya. Berikut uraiannya:

Perlu diketahui bahwa keadaan wanita di dunia, tidak lepas dari enam keadaan:
1. Dia meninggal sebelum menikah.
2. Dia meninggal setelah ditalak suaminya dan dia belum sempat menikah lagi sampai meninggal.
3. Dia sudah menikah, hanya saja suaminya tidak masuk bersamanya ke dalam surga, wal’iyadzu billah.
4. Dia meninggal setelah menikah baik suaminya menikah lagi sepeninggalnya maupun tidak (yakni jika dia meninggal terlebih  dahulu sebelum suaminya).
5. Suaminya meninggal terlebih dahulu, kemudian dia tidak menikah lagi sampai meninggal.
6. Suaminya meninggal terlebih dahulu, lalu dia menikah lagi setelahnya.

Berikut penjelasan keadaan mereka masing-masing di dalam surga:

Perlu diketahui bahwa keadaan laki-laki di dunia, juga sama dengan keadaan wanita di dunia: Di antara mereka ada yang meninggal sebelum menikah, di antara mereka ada yang mentalak istrinya kemudian meninggal dan belum sempat menikah lagi, dan di antara mereka ada yang istrinya tidak mengikutinya masuk ke dalam surga. Maka, wanita pada keadaan pertama, kedua, dan ketiga, Allah -’Azza wa Jalla- akan menikahkannya dengan laki-laki dari anak Adam yang juga masuk ke dalam surga tanpa mempunyai istri karena tiga keadaan tadi. Yakni laki-laki yang meninggal sebelum menikah, laki-laki yang berpisah dengan istrinya lalu meninggal sebelum menikah lagi, dan laki-laki yang masuk surga tapi istrinya tidak masuk surga.

Ini berdasarkan keumuman sabda Nabi -Shallallahu ‘alaihi wasallam- dalam hadits riwayat Muslim no. 2834 dari sahabat Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-:

مَا فِي الْجَنَّةِ أَعْزَبٌ
“Tidak ada seorangpun bujangan dalam surga”.

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah- berkata dalam Al-Fatawa jilid 2 no. 177, “Jawabannya terambil dari keumuman firman Allah -Ta’ala-:

وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنْفُسُكُمْ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَدَّعُونَ. نُزُلاً مِنْ غَفُوْرٍ رَحِيْمٍ
“Di dalamnya kalian memperoleh apa yang kalian inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kalian minta. Turun dari Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Fushshilat: 31)

Dan juga dari firman Allah -Ta’ala-:

وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ وَأَنْتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
“Dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kalian kekal di dalamnya.” (Az-Zukhruf: 71)

Seorang wanita, jika dia termasuk ke dalam penghuni surga akan tetapi dia belum menikah (di dunia) atau suaminya tidak termasuk ke dalam penghuhi surga, ketika dia masuk ke dalam surga maka di sana ada laki-laki penghuni surga yang belum menikah (di dunia). Mereka -maksud saya adalah laki-laki yang belum menikah (di dunia)-, mereka mempunyai istri-istri dari kalangan bidadari dan mereka juga mempunyai istri-istri dari kalangan wanita dunia jika mereka mau. Demikian pula yang kita katakan perihal wanita jika mereka (masuk ke surga) dalam keadaan tidak bersuami atau dia sudah bersuami di dunia akan tetapi suaminya tidak masuk ke dalam surga. Dia (wanita tersebut), jika dia ingin menikah, maka pasti dia akan mendapatkan apa yang dia inginkan, berdasarkan keumuman ayat-ayat di atas”.
Dan beliau juga berkata pada no. 178, “Jika dia (wanita tersebut) belum menikah ketika di dunia, maka Allah -Ta’ala- akan menikahkannya dengan (laki-laki) yang dia senangi di surga. Maka, kenikmatan di surga, tidaklah terbatas kepada kaum lelaki, tapi bersifat umum untuk kaum lelaki dan wanita. Dan di antara kenikmatan-kenikmatan tersebut adalah pernikahan”.

Adapun wanita pada keadaan keempat dan kelima, maka dia akan menjadi istri dari suaminya di surga.

Adapun wanita yang menikah lagi setelah suaminya pertamanya meninggal, maka ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Sebagian ulama -seperti Syaikh Ibnu ‘Ustaimin- berpendapat bahwa wanita tersebut akan dibiarkan memilih suami mana yang dia inginkan.

Ini merupakan pendapat yang cukup kuat, seandainya tidak ada nash tegas dari Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- yang menyatakan bahwa seorang wanita itu milik suaminya yang paling terakhir. Beliau -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:

اَلْمَرْأَةُ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا
“Wanita itu milik suaminya yang paling terakhir”. (HR. Abu Asy-Syaikh dalam At-Tarikh hal. 270 dari sahabat Abu Darda` dan dishohihkan oleh Syaikh Al-Albany dalam Ash-Shohihah: 3/275/1281)

Dan juga berdasarkan ucapan Hudzaifah -radhiyallahu ‘anhu- kepada istri beliau:

إِنْ شِئْتِ أَنْ تَكُوْنِي زَوْجَتِي فِي الْجَنَّةِ فَلاَ تُزَوِّجِي بَعْدِي. فَإِنَّ الْمَرْأَةَ فِي الْجَنَّةِ لِآخِرِ أَزْوَاجِهَا فِي الدُّنْيَا. فَلِذَلِكَ حَرَّمَ اللهُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ أَنْ يَنْكِحْنَ بَعْدَهُ لِأَنَّهُنَّ أَزْوَاجُهُ فِي الْجَنَّةِ
“Jika kamu mau menjadi istriku di surga, maka janganlah kamu menikah lagi sepeninggalku, karena wanita di surga milik suaminya yang paling terakhir di dunia. Karenanya, Allah mengharamkan para istri Nabi untuk menikah lagi sepeninggal beliau karena mereka adalah istri-istri beliau di surga”. (HR. Al-Baihaqi: 7/69/13199 )

Faidah:
Dalam sholat jenazah, kita mendo’akan kepada mayit wanita:

وَأَبْدِلْهَا زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهَا
“Dan gantilah untuknya suami yang lebih baik dari suaminya (di dunia)”.

Masalahnya, bagaimana jika wanita tersebut meninggal dalam keadaan belum menikah. Atau kalau dia telah menikah, maka bagaimana mungkin kita mendo’akannya untuk digantikan suami sementara suaminya di dunia, itu juga yang akan menjadi suaminya di surga?

Jawabannya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh Ibnu ‘Utsaimin -rahimahullah-. Beliau menyatakan, “Kalau wanita itu belum menikah, maka yang diinginkan adalah (suami) yang lebih baik daripada suami yang ditakdirkan untuknya seandainya dia hidup (dan menikah). Adapun kalau wanita tersebut sudah menikah, maka yang diinginkan dengan “suami yang lebih baik dari suaminya” adalah lebih baik dalam hal sifat-sifatnya di dunia (2). Hal ini karena penggantian sesuatu kadang berupa pergantian dzat, sebagaimana misalnya saya menukar kambing dengan keledai. Dan terkadang berupa pergantian sifat-sifat, sebagaimana kalau misalnya saya mengatakan, “Semoga Allah mengganti kekafiran orang ini dengan keimanan”, dan sebagaimana dalam firman Allah -Ta’ala-:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَوَاتُ

“(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit.” (Ibrahim: 48)
Bumi (yang kedua) itu juga bumi (yang pertama) akan tetapi yang sudah diratakan, demikian pula langit (yang kedua) itu juga langit (yang pertama) akan tetapi langit yang sudah pecah”. Jawaban beliau dinukil dari risalah Ahwalun Nisa` fil Jannah karya Sulaiman bin Sholih Al-Khurosy.
___________
(1) Karenanya sebelum berpikir masalah ini, pikirkan dulu bagaimana caranya masuk surga.

(2) Maksudnya, suaminya sama tapi sifatnya menjadi lebih baik dibandingkan ketika di dunia.

sumber : al-atsyarriyah.com

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 22 Desember 2009

Kapita Selekta Hukum Keluarga Islam di Indonesia

Dalam kitab-kitab Fiqh, Tidak ada perintah pencatatan: akad nikah sah jika telah memenuhi rukun dan syarat nikah. Hampir semua ‘ulama mewajibkan adanya saksi dalam akad nikah, yang fungsinya mengumumkan pernikahan, kecuali Malik yang menekankan fungsi saksi, yaitu mengumumkan. Maka saksi tidak begitu penting, tetapi tetap menjadi syarat, jika pengumuman tetap dilaksanakan . Saksi boleh disusulkan setelah akad nikah, sebelum jima’ dilakukan.

Dalam Perundang-undangan Indonesia:

1. UU No. 22/1964, administrasi saja; perkawinan diawasi oleh pegawai pencatat

nikah, tanpa pengawasan dikenakan sanksi (pelanggaran),

2. pasal 2 (2) UU No. 1/ 1974 (hal. 72); tiap2 perkawinan dicatat menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku, tapi pasal  2 (1) menyebutkan bahwa ‘Perkawinan sah apabila dilakukan menurut hokum masing2 agamanya dan kepercayaannya itu’.

3. pasal 5 (1-2); ‘Agar terjadi ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatat’, pasal 6 (1-2) KHI (hal. 15); perkawinan yang dilakukan di luar pegawai pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hokum.

4. Jadi pencatatan tidak merupakan syarat sah pernikahan, tapi penjelasan UU/1974 menyebutkan bahwa peraturan perundang-undang merupakan unsur yang harus dipenuhi untuk kesahan akad nikah.

Pandangan Scholars :

Ketidakjelasan aturan tentang pencatatan menimbulkan debat. Pencatatan menjadi syarat sahnya pernikahan; dengan alasan: pasal2 peraturan perundang-undangan pelaksanaan UUP (PP No. 9/1974), ayat-ayat pada UUP merupakan satu kesatuan –perkawinan yang telah memenuhi syarat-syarat keagamaan segera disusul oleh kewajiban  pendaftaran/pencatatan. Pencatatan hanya merupakan syarat administrasi; dengan alasan: UU No. 22/1946 yang menekankan pada administrasi saja, sanksi hukuman berarti administratif dan bukan menjadikan pernikahan tidak sah hanya karena tidak dicatat, syarat dan rukun agamalah yang menjadi ukuran sah atau tidaknya perkawinan. Dualisme muncul dalam hal ini. Phrase, “sah secara agama tidak sah secara negara”, akhirnya sering terdengar.

Praktek: Cases of unregistered marriages.

Masyarakat di desa banyak yang nggak peduli dengan keharusan pencatatan nikah, Biaya menikah di KUA masih merupakan masalah. Banyak masyarakat yang tidak mampu mebayar meski biaya relatif kecil, padahal mereka ingin menikahkan atau menikah. Mereka tidak peduli pentingnya pencatatan. Mereka baru merasa butuh ketika dihadapkan pada urusan-urusan hukum lainnya, seperti pembuatan akte lahir untuk anaknya. “Kawin kampung’, “kawin di bawah tangan”, dan “kawin sirri”, menjadi solusi dan marak, menandakan pernikahan tak tercatat masih sangat biasa. Bukti banyaknya perkawinan tak tercatat dapat dilihat pada banyaknya kasus itsbat nikah yang diajukan ke PA, seperti terlihat di beberapa wilayah, spt, Cianjur, Cibinong, Jakarta Selatan, dll. Penelitian terhadap sikap dan potensi fisik dan sosial pegawai KUA, mengemukakan bahwa di daerah pandeglang, dan Situbondo, penikahan di bawah tangan masih banyak dilakukan karena alasan2 di atas. PA Jakarta Selatan telah mengeluarkan putusan yang mengesahkan akad pernikahan lewat telpon. Putusan menuai kritik dan debat. PA mendasarkan putusan pada praktek nikah di mana Nabi menjadi wakil seorang laki-laki yang menikah (padahal praktek itu berbeda dengan praktek nikah lewat telpon) Mimbar Hukum menampilkan analisis atas putusan tersebut oleh Prof. Dr. Satria Effendi.

Akad Nikah Fia Telpon

Salah satu syarat akad nikah adalah satu majlis.

Tujuan satu majlis yaitu:

1. Imam Hanafi; berkesinambungan akad, ijab dan qabul.

2. Imam Shafi’i; berkesinambungan akad, ijab dan qabul, dan mu’ayanah (masing-masing pihak dapat saling melihat.

3. Jika dikaitkan pendapat kedua madhhab ini dengan kasus menikah lewat telpon, maka, nikah tersebut bisa dikatakan sah jika dilihat dari pendapat imam Hanafi, karena meski tidak satu majlis, tujuan berkesinambungan dapat tercapai. Namun, jika dilihat dari pendapat shafi’I, nikah tersebut tidak memenuhi syarat akad, karena dengan tidak satu majlis, kedua belah pihak tidak saling melihat (mu’ayanah).

4. Hal ini juga bisa dikaitkan dengan posisi dan syarat saksi menurut kedua imam ini, di mana menurut Hanafi saksi buta boleh, karena yang disaksikan hanyalah suara, sementara menurut Shafi’I saksi harus bisa melihat dan mendengar, karena selain suara, fisiknya harus dapat dilihat dan dikenali.

5. Terlebih Shafi’I menekankan pada unsur ta’abbudi akad pernikahan, artinya karena nabi tidak pernah mencontohkan praktek pernikahan seperti itu, maka pernikahan dengan model tersebut, bisa dikatakan tidak sah.

6. Nabi telah memberikan dua contoh praktek akad nikah, calon suami dan istri (wali) hadir dan berhadapan langsung, atau suami mengirimkan wakilnya untuk menggantikannya di dalam akad, dan kedua cara inilah yang harus diikuti.

Dalam KHI, akad pernikahan telah diatur pada pasal 27, di mana akad harus beruntun dan tidak terselang waktu. Pasal 28 dan 29 menyebutkan bahwa pernikahan harus dihadiri oleh suami dan jika suami tidak bisa hadir ia bisa mewakilkan kepada orang yang ia percayai. Beberapa menganggap bahwa PA jakarta selatan melalui putusannya telah keluar dari koridor hukum yang ada. Beberapa yang lain berpendapat bahwa hakim boleh berijtihad dan hakim PA Jakarta selatan telah melakukan itu.

Kawin Hamil dan Nasab Anak

Jumhur ‘ulama (Imam Sunni yang Empat) memperbolehkan praktek nikah hamil (tidak harus menunggu melahirkan). Namun mereka berbeda pendapat mengenai dengan siapa mereka (wanita2 hamil itu) boleh menikah dalam keadaan hamil. Imam Malik dan Hambali; hanya boleh dengan yang menghamilinya saja. Imam Shafi’I dan Hanafi; boleh dengan orang yang menghamilinya dan juga yang bukan menghamilinya (Jika yang bukan menghamilinya yang mengawininya maka mereka tidak boleh digauli dahulu, sampai mereka melahirkan dan iddahnya habis),  (KHI mengadopsi pendapat Malik dan Hambali). Status anak dari wanita hamil di luar nikah; nasab hanya pada ibunya saja (meski mereka menikah dengan yang menghamilinya); Hal ini dikaitkan dengan pendapat ‘ulama yang mengatakan bahwa anak yang lahir di bawah 6 bulan setelah perkawinan ibunya, anak tersebut dapat diingkari oleh bapaknya dan nasabnya tidak bisa dihubungkan pada bapaknya. KHI mengesahkan tersambungnya nasab si anak dengan bapaknya jika ibu dan bapak yang menghamilinya menikah dan bapak berhak menjadi walinya.

Menikah Beda Agama

Menikah dengan Musyrik, Musyrik; penyembah berhala, penyembah api dan benda2 lain. Haram menikah laki-laki muslim atau wanita muslim dengan non muslim/ musyrik. Musyrik diartikan selain kelompok di atas juga penganut agama kristen/nasrani; tidak ada yang lebih musyrik ketimbang mereka yang menganggap Isa Tuhan mereka, demikian menurut kelompok ini. Dasar hukum dalam al-Qur’an, La tankihu al musyrikat hatta yu’minna walau a’ajabatkum…..; wala tunkihu al musyrikin (al-baqarah: 5)

Menikah dengan ahlul kitab

Haram menikah wanita muslim dengan laki-laki ahlul kitab, Boleh menikah laki-laki muslim dengan wanita ahlul kitab. Dasar dalam al-Qur’an: Al yauma uhilla lakum…….Siapa ahlul kitab? Golongan yang memegang kitab-kitab suci yang diturunkan Allah selain al-Quran, Dikaitkan dengan kondisi sekarang: Mereka yang keturunan bani israel (Shafi’i), Mereka yang sampai sekarang ahlul kitab tanpa terhalang/terganggu oleh generasi yang bukan ahlul kitab /khalisah (Shafi’i). Beberapa kalangan akhirnya menyimpulkan bahwa hampir tidak ada kaum nashrani yang memenuhi kriteria tersebut di atas, dan menikah dengan ummat nasrani yang ada pada saat ini haram hukumnya. Beberapa pemikir mengemukakan bahwa ahlul kitab adalah semua orang nashrani yang sampai sekarang memegang kitab suci (samawi) tanpa melihat kondisi yang disebutkan diatas, dan menikah dengan mereka diperbolehkan.

Riddah dan Efeknya Terhadap Setatus Pernikahan

Riddah artinya keluar dari agama Islam/ kembali kepada kekufurannya yang dilakukan oleh orang yang sudah baligh dan dilakukan atas kemauan sendiri.

Menurut fiqh riddah mengakibatkan batalnya perkawinan, dengan rincian beberapa pendapat;

*  Hanafi dan Maliki; akad nikah batal seketika riddah terjadi baik sebelum atau sesudah jima’ dilakukan

* Shafi’I dan Hambali; jika riddahnya dilakukan sebelum jima, nikah batal seketika itu juga, tapi jikan riddah dilakukan setelah jima’ dilakukan, pembatalan pernikahan ditangguhkan hingga masa iddah istri habis. Jika sebelum iddah habis si murtad kembali pada islam lagi, maka ia tetap pada status pernikahannya. Tapi jika ia kembali pada islamnya setelah masa iddah habis, atau ia tidak kembali, maka antara keduanya telah dinyatakan pisah ketika riddah terjadi.

* Pendapat lain (Ibn Taimiyyah) mengatakan bahwa jika salah seorang pasangan melakukan riddah, pernikahannya dibekukan. Apabial si murtad kembali pada islam lagi, pernikahan dilanjutkan (sah lagi), baik kembalinya pada Islam itu sebelum maupun setelah iddahnya habis.

Dalam Peraturan di Indonesia

UU No 1/ 1974 tidak mengatur tentang masalah murtad (tidak menjelaskan efeknya terhadap perkawinan)/ namun dalam prakteknya hakim sering memutuskan cerai pada pasangan yang salah satunya melakukan riddah. KHI memasukan riddah sebagai salah satu alasan perceraian dengan syarat jika riddahnya tersebut menyebabkan terjadinya perselisihan (psl 116 (h)). Dalam praktek, hakim memandang bahwa ada atau tidak adanya perselisihan yang diakibatkan oleh riddahnya salah saorang pasangan, pernikahan harus diputuskan. Efek terhadap hadanah adalah bahwa pihak yang murtad sering tidak diberikan hak pengasuhannya. Mala meskipun anak masih di bawah umur, pengasuhan anak sering dipindahkan kepada pihak lain, bapak, jika si ibu yang melakukan riddah.

Kewarisan : Ahli Waris Pengganti

Hukum Kewarisan di Indonesia pada umumnya mengadopsi aturan yang ada dalam buku-buku fiqh, yang merujuk pada nash Qur’an, text hadith dan Ijma’ fuqaha. Namun, dalam beberapa hal KHI mengakomodir tradisi lokal dan tuntunan beberap pihak, terutama wanita. Salah satu aturan yang dapat dianggap sebagai usaha mengakomodir adat adalah aturan adanya ahli waris penganti, pasal 185 (1-2). Kewarisan adat dalam sistem matrilineal dan juga patrilineal turut mempengaruhi aturan itu (seperti terekam dalam pemikiran Hazairin) Adopsi rupanya juga memilki akarnya pada aturan BW tentang plaatsvervulling, penggantian tempat dalam kewarisan, yang pernah dipraktekan di PTN Medan melalui putusannya, No. 195/1950, yang menetapkan bahwa anak si anak yang meninggal terlebih dahulu dari ayahnya, mendapatkan harta warisan dari ayah ayahnya (kakek), ketika ia meninggal. Putusan yang sama pernah juga dikeluarkan oleh PN Batavia, pada Desember 1932.

Isi pasal 185 KHI

” Ahli waris yang meninggal terlebih dahulu dari mayit dapat digantikan kedudukannya oleh anaknya”  (ayat 1)

Pasal ini sering ditafsirkan luas, karena pemakaian kata ahli waris yang sangat umum. Anak dari saudara mayat yang meninggal lebih dahulu dianggap juga dpat menggantikan ayahnya (saudara mayat), padahal tujuan awal dari aturan itu adalah untuk menyelesaikan permasalah cucu yatim, yang merupakan masalah global di hampir seluruh dunia Muslim; Mesir, dan negara timur tengah lainnya menyelesaikannya dengan konsep wasiat wajiba. Pakistan menyelesaikannnya dengan sistem ahli waris pengganti, dengan aturan yang sangat specifik dan jelas, karena hanya mengatur cucu mayat (dengan pemakaian kata yang langsung mengarah pada maksud, yaitu anak si anak dari mayat) Maka pembagian warisan berdasarkan pada pasal 185 (1) tersebut, jika ahli waris terdiri dari, misalnya; anak laki-laki, anak perempuan, dan anak(lk or pr) dari anak pewaris (mayat) yang telah meninggal terlebih dahulu, dengan, misalnya, Rp. 1.000.000,  adalah sbb:

* Anak laki-laki=2/5×1.000.000= 400.000

* Anak perempuan= 1/5×1000.000=200.000

* Anak dari anak laki-laki (cucu mayat=2/5×1.000.000=400.000 (harta habis)

Pembagian itu dianggap kurang memberikan keadilan pada anak perempuan si mayat (hal ini telah dipikirkan sejak penyusunan KHI), karena ank memperoleh bagian lebih kecil dari cucu. Maka disisipkan klausa dalam pasal tersebut dalam ayat 2, yang menyatakan bahwa bagian waris dari ahli waris pengganti tidak boleh melebihi bagian dari ahli waris yang sederajat dengan yang digantikan.

Pembagian kewarisan dengan mendasarkan pada ayat 1-2 tersebut, menjadi;

* Anak laki-laki=2/5×1.000.000= 400.000

*  Anak perempuan= 1/5×1000.000=200.000

* Anak dari anak laki-laki (cucu mayat=1/5×1.000.000=200.000

* Sisa harta Rp. 200.000 dibagi sama antara anak pr dan cucu (anak dari anak laki yang telah meninggal, dan masing2 mendapat Rp. 300.000)

Aturan ini mendapatkan kritik dari kalangan ahli hukum Islam, beberapa, (di antaranya para hakim) setuju dengan pasal tersebut tetapi tidak dengan ayat 1 nya dan menuding KHI tidak konsisten dengan konsep ahli waris pengganti. Beberapa yang lain menganggap bahwa pasal tersebut secara keseluruhan baik dan pas untuk diterapkan, Beberapa yang lain termasuk ahli hukum Islam spt Minhajul falah, tidak setuju sepenuhnya dengan konsep itu dan cenderung menginginkan konsep wasiat wajiba untuk kasus cucu yatim, spt yang diterapkan di beberapa negeri muslim lainnya. Pembagian kewarisan atas dasar kesepakatan diperbolehkan. KHI mengaturnya dalam pasal 183, yang menyatakan bahwa harta waris dapat dibagikan sesuai dengan keinginan dan kesepakatan para ahli waris, tetapi mereka harus terlebih dahulu mengetahu dan menyadari bagian masing2 sesuai dengan aturan kewarisan Islam.

Oleh: Euis Nurlaelawati (Dosen di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta)

Oleh: Sulis Syakhsiyah Annisa | 29 Oktober 2009

Kafa’ah

 

walimah Islam sebagai  sebuah pedoman hidup mengajarkan kepada penganutnya untuk senantiasa berikhtiar   (berusaha) dalam rangka mencapai tujuan-tujuan ideal yang dikehendakinya. Tujuan yang dikehendaki itu boleh jadi sesuatu yang sangat indah, baik dan menyenangkan, atau karena itulah yang dikehendaki oleh Allah SWT. Demikian juga dengan keluarga sakinah. Secara manusiawi, ia merupakan suatu model atau performance keluarga yang dicita-citakan oleh setiap orang, baik yang telah melangsungkan pernikahan maupun yang belum. Keluarga sakinah merupakan dambaan bagi setiap pasangan suami istri, baik yang baru maupun yang telah lama membangun rumah tangga. [1]

Dalam pandangan islam perkawinan itu bukanlah hanya urusan perdata semata, bukan pula sekedar urusan keluarga dan masalah budaya, tetapi masalah dan peristiwa agama, oleh karena perkawinan itu dilakukan untuk memenuhi sunnah Allah SWT dan petunjuk Nabi SAW. Disamping itu perkawinan juga bukan untuk mendapatkan ketenangan hidup sesaat, tetapi untuk selama hidup. Oleh karena itu, seseorang mesti menentukan pilihan pasangan hidupnya itu secara hati-hati dan dilihat dari berbagai segi.[2] Dalam perakteknya, seseoarng melaksanakan perkawinan disebabkan karena ketertarikannya pada calon pasangannya. Ketertarikan itu boleh jadi karena empat hal, yakni karena kecantikan, keturunan, harta, dan karena agamanya. Hal tersebut dijelaskan dalam hadis Rasullah swa: [3]

“ Wanita dinikahi karena empat hal; yakni karena hartanya, keturunanya, kecantikannya dan agamanya, maka pilihlah wanita yang beragama niscaya kamu beruntung”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Yang dimaksud dengan keberagamaan disini adalah komitmen agamanya atau kesungguhannya dalam menjalankan ajaran agamanya. Ini dijadikan pilihan utama karena itulah yang akan langgeng. Kekayaan suatu ketika akan lenyap dan kecantikan suatu saat dapat pudar demikian pula kedudukan, suatu ketika akan hilang.[4] Suatu hal yang harus kita perhatikan sedaca seksama adalah bahwa mustahil seseorang akan mendapatkan seorang suami atau istri yang sesuai dengan seleranya secara seratus persen. Denga begitu, kendati sosok calon pasangannya itu hanya memenuhi limapuluh persen saja dari persyaratan yang diiginkannya, maka itu sudah lebih dari mencukupi.[5] Namun yang tidak boleh kita sepelekan yaitu posisi yang seimbang (setara) antara pasangan suami istri akan dengan mudah menumbuhkan saling pengertian di antara mereka. Tidak ada lagi mereka untuk saling meremerkan atau merendahkan. Sehingga, mereka terhindar dari perselisihan-perselisihan yang dapat berakibat fatal bagi kelestarian rumah tangga mereka.[6] Artinya, jangan sampai ada jurang yang terlalu dalam antara suami istri pada level ilmiah, matrrial, dan mental. Tapi harus ada kesepadanan dalam pemikiran, pemahaman, selera, dan cita-cita.[7]

Idealnya sebuah kehidupan rumah tangga adalah untuk hidup rukun, bahagia dan tentram. Tetapi , sebuah perjalanan hidup tidak selamanya mulus sesuai yang diharapkan, kadang terdapat perbedaan pandangan dalam memahami kehidupan dan kececokan, pasangan suami istri merasa tidak nyaman dan tidak tentam lagi dengan perkawinan mereka. Karena pada kenyataannya membina hubungan keluarga tidak mudah bahkan sering kehidupan perkawinan kandas di tengah jalan.[8]

Fenomena cerai gugat merupakan fenomena yang banyak terjadi belakangan ini dari mulai artis hingga masyarakat umum. Kasus istri yang menggugat cerai suami bukanlah hal yang tabu lagi. Sebagia besar perceraian dominan oleh perempuan yang menuntut cerai penyebabnya sangat klise dari mulai faktor ekonomi, kurang tanggungjawab sang suami sampai masalah perselingkuhan. Selain itu istilah yang kerap melekat bagi seorang istri  bahwa ‘istri ikut suami’ sudah tidak zamannya. Dan istri akan menderita bila ditinggal suami sudah tidak usang buktinya kalau dulu kaum suamilah yang menceraikan istri tapi sekarang istrilah yang banyak menceraikan suami.[9]


[1] Adi Syamsu Alam, Usia Ideal untuk Menikah, ( Jakarta: PPHIM, 2006), Cet.II, h.IX

[2] Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, (Jakarta; Prenada  Media, 2006), Cet.I, h.48

[3] Adi Syamsu Alam, Usia Ideal untuk Menikah, h.7

[4] Amir Syarifuddin, hukum Perkawinan Islam di Indonesia, h.49

[5] Ayyatullah Husai Mazhahiri, Membangun Syurga dalam Rumah Tangga. Penterjemah Abdullah Assegaf, (Bogor: Cahaya, 2004), Cet.2, h.

[6] Adi Syamsu Alam, Usia Ideal untuk Menikah, h.19

[7] Shahih Syaikh Fuad, Untukmu yang akan Menikah dan Telah Menika. Penerjemah Ahmad Fadil, (Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2006), Cet.III, h.45

[8] Chuzaemah T. Yanggo dan A. Hafiz anshary. A.Z, Problematika Hukum Islam Kontemporer, (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2002), Cet.III, h.73

[9] Majalah Bulanan BP4, Perkawinan dan Keluarga Menuju Keluarga Sakinah, (Jakarta: BP4, 2006), ED No.405

Older Posts »

Kategori